Salah
satu dari tujuan Preventive Maintenance adalah untuk menemukan suatu
tingkat keadaan yang menunjukan gejala kerusakan sebelum alat-alat
tersebut mengalami kerusakan fatal. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan
membuat perencanaan dan penjadwalan kegiatan maintenance dengan
interupsi sekecil mungkin terhadap proses produksi.
Pada
dasarnya tidak cukup hanya dengan membuat perencanaan penjadwalan
(scheduled maintenance) yang matang akan tetapi perlu diperhatikan
usaha-usaha untuk memusatkan perhatian pada unit-unit peralatan produksi
yang dianggap rawan dan kritis. Suatu kualifikasi terhadap unit yang rawan didasarkan pada:
- Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan kerja.
- Kerusakan dapat mempengaruhi jalannya proses produksi dan kualitas produk.
- Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti.
- Modal yang tertanam pada unit tersebut dinilai cukup tinggi.
Untuk
memelihara atau memeriksa seluruh unit secara ketat dan teratur hanya
sekedar menghilangkan kemungkinan kerusakan pada peralatan produksi
adalah suatu usaha yang tidak praktis karena memerlukan manusia-manusia
dengan persyaratan tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Akibat bentuk
dan saat terjadinya gangguan sangat sulit untuk diperkirakan secara
dini, maka pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur dan periodik dari
waktu ke waktu terhadap semua unit instalasi. Untuk melakukan hal
tersebut maka dibutuhkan usaha-usaha pemeliharaan yang antara lain
meliputi :
- Pemeliharaan rutin
- Pemeliharaan (sifatnya perbaikan) kecil/medium
- Bongkar seluruhnya (overhaul)
Pemeliharaan
rutin adalah usaha pemeliharaan terhadap unit-unit instalasi yang
dilakukan secara rutin dan periodik dengan interval waktu pelaksanaan
yang tetap dan singkat.
Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pemeliharaan rutin
pada dasarnya adalah usaha pemeliharaan yang dilakukan tanpa melelui
proses pembongkaran. Bentuk pekerjaan dalam pemeliharaan rutin antara
lain adalah:
- Inspeksi rutin
adalah merupakan peninjauan secara visual terhadap kondisi fisik
komponen dari unit instalasi peralatan produksi. Pekerjaan ini biasanya
dilakukan secara rutin setiap satu hari sampai satu minggu sekali,
tergantung kebutuhan.
- Pengetesan rutin,
merupakan usaha untuk mengatur atau memantau kondisi kerja suatu
komponen sacara rutin agar komponen dapat diusahakan untuk beroperasi
pada kondisi normal.
Kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan dalam pemeliharaan rutin misalnya :
- Memeriksa fungsi dari mekanisme komponen
- Memeriksa dan menyetel (adjustment)
- Membersihkan
- Mengencangkan bagian-bagian yang kendur
Pemeliharaan
kecil/medium adalah usaha perbaikan-perbaikan ringan terhadap gejala
gangguan yang berhasil terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Perbaikan
ringan sangat penting peranannya dalam mencapai tingkat keberhasilan
proses pemeliharaan yang dilakukan terhadap suatu komponen unit
instalasi.
Kegiatan Overhaul pada mesin biasanya dilakukan
secara periodik dan sangat teratur serta mempunyai konsentrasi dan
perhatian yang lebih dibanding pemeriksaan rutin dan pemeliharaan kecil.
Pada kegiatan ini dilakukan pembongkaran mesin untuk mengecek kondisi
komponen mesin secara menyeluruh dimana dimaksudkan untuk mengetahui
kemungkinan kerusakan yang terjadi pada mesin yang tidak dapat diketahui
hanya dengan pemeriksaan rutin. Contoh kegiatan seperti ini misalnya
pada penggantian batu tahan api di tanur/kiln pabrik semen.
Disamping
dilakukan pemeliharaan dengan perencanaan dan penjadwalan yang matang,
didalam preventive maintenance dikenal pula kegiatan yang sering disebut
dengan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dapat
diartikan sebagai strategi pemeliharaan dimana pelaksanaannya didasarkan
pada kondisi peralatan produksi itu sendiri
Mengingat tingkat
kepastian 100% tidak pernah ada maka orang lebih suka menggunakan
istilah prediksi atau perkiraan untuk memastikan pendapatnya. Dalam
menduga-duga inipun pada dasarnya dibutuhkan dukungan data dan
pengetahuan yang cukup mendalam tentang perilaku dari peralatan produksi
yang diamati.
Beberapa contoh dukungan pengetahuan yang diperlukan untuk mengantisipasi keadaan ini antara lain :
- Penguasaan prinsip kerja alat yang bersangkutan.
- Penguasaan karakteristik alat.
- Pengalaman pengoperasian alat yang sama di masa lalu baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
- Penguasaan dan pengambilan data yang tepat.
- Penguasaan pengolahan data.
- Kemampuan mengkorelasikan antara satu kejadian dengan kejadian lain dalam kaitannya dengan bidang maintenance.
- Berwawasan luas dalam bidang peralatan produksi kaitannya dengan kemajuan teknologi.
Seperti
telah diketahui, preventive maintenance berfungsi menangani langsung
hal-hal yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada
fasilitasfasilitas yang dilakukan dengan jalan memeriksa alat/fasilitas
secara teratur dan berkala serta memperbaiki kerusakan kecil yang
dijumpai selama pemeriksaan. Bagaimanapun baiknya kondisi suatu
peralatan produksi yang telah direncanakan, keausan dan kerusakan selama
pemakaian pada umumnya masih dapat terjadi, namun demikian laju keausan
dan kerusakan ini masih dapat diperkirakan besarnya bila peralatan
produksi/alat dipakai dalam kondisi normal.
Khususnya dalam
bidang peralatan listrik dan elektronika sering diperingatkan bahwa
kerusakan-kerusakan komponen listrik adalah bahaya yang selalu mangancam
sehingga tidak ada alat/instrument yang dapat memeriksa dan mengukur
terhadap kerusakan komponen secara detail. Yang umum dilakukan dalam
praktek, contohnya adalah mengganti semua bola lampu listrik dalam waktu
tertentu, jadi tidak menggantinya satu persatu setelah bola lampu
tersebut padam. Hal yang sama juga pada dilakukan pada menggantian
bearing pada peralatan produksi.
Contoh diatas adalah contoh
kasus dari pendekatan predictive maintenance. Predictive maintenance
juga merupakan suatu teknik yang banyak dipakai dalam cara produksi
berantai dimana bila ada gangguan darurat sedikit saja pada sistem
produksi tersebut akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Seperti
misalnya sistem produksi dengan sistem inline process, apabila proses
produksi tersebut terhenti karena kerusakan yang terjadi pada inline
process tersebut maka dapat dibayangkan kegagalan produksi yang terjadi.
Jadi
Predictive maintenance adalah merupakan bentuk baru dari Planned
Maintenance dimana penggantian komponen/suku cadang dilakukan lebih awal
dari waktu terjadinya kerusakan. Untuk membantu melaksanakan predictive
maintenance terdapat suatu diagram analisa predictive yang sering
digunakan yang mengacu pada kondisi peralatan produksi besangkutan.
Diagram analisa ini sering dikenal dengan instilah Bath Tube Curve
karena grafik yang dihasilkan yang menyerupai bak mandi.
Pada
diagram analisa tersebut dibagi menjadi 3 phase lifetime dari suatu
peralatan produksi. Phase I atau sering juga disebut dengan early
failure karena pada phase ini peralatan produksi dalam kondisi running
in/masih baru (penyesuaian) dan pertama kali dioperasikan maka permukaan
kerja (working surface) dari peralatan produksi masih kasar. Pada
kondisi ini terdapat proses penghalusan permukaan tersebut karena
terjadinya kontak kerja permukaan. Setelah melewati phase ini, karena
permukaan bidang kerja sudah halus maka tingkat kontak kerja permukaan
juga sudah menurun karena permukaan kerja peralatan produksi sudah pada
kondisi stabil. Phase II ini dikenal sebagai useful life-period. Pada
periode inilah yang akan menentukan umur peralatan produksi sebenarnya.
Karena permukaan bidang kerja mempunyai lapisan kekerasan dengan
ketebalan yang terbatas maka bila lapisan keras ini sudah habis terkikis
maka laju keausan/kerusakan akan meningkat kembali. Hal ini akan
berlangsung selama phase III yang dikenal sebagai periode keausan cepat
(wearing out period).
Pada contoh kasus penggantian bearing
peralatan produksi, dengan mengacu pada diagram analisa predictive
tersebut maka penggantian sebaiknya dilakukan sebelum phase III atau
menjelang phase II berakhir dengan demikian kondisi bearing tidak sampai
rusak parah sehingga kerusakan pada peralatan produksi yang fatal
akibat hancurnya bearing dapat dihindari dan tidak merambat pada
komponen yang lain sehingga terhentinya proses produksi yang lama dapat
dicegah.
Dalam predictive maintenance terdapat beberapa metode
dalam mamantau atau monitoring kondisi dari suatu peralatan produksi,
antara lain :
- Monitoring minyak pelumas Dengan cara
mengambil sample oli dari peralatan produksi untuk mengecek
kekentalannya atau melihat kuantitas oli yang masih tersimpan di tangki
oli sesuai dengan anjuran dari manual book mesin merupakan cara-cara
untuk monitoring minyak pelumas.
- Monitoring Visual Metode
ini menggunakan panca indera yang meliputi lihat, rasa, dengar guna
mengetahui kondisi mesin. Untuk lebih akurat bisanya digunakan alat
Bantu.
- Monitoring kinerja Merupakan teknik monitoring
kondisi peralatan produksi dengan cara memeriksa dan mengukur parameter
kinerja dan kemudian dibandingkan dengan standarnya.
- Monitoring
Geometris Diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan
produksi dapat diketahui dan kemudian dilakukan kegiatan meliputi
pengukuran leveling dan pengukuran posisi (alignment).
- Monitoring
getaran Monitoring ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara
rutin dan terus menerus sehingga getaran yang akan mengakibatkan
kerusakan peralatan produksi lebih lanjut dapat dicegah.
Historical record pada Preventive maintenance
Pencatatan
riwayat peralatan produksi yang dirawat perlu dilakukan untuk memantau
perkembangan dan kondisi peralatan produksi dari waktu ke waktu. Adapun
tujuan pencatatan riwayat peralatan produksi secara umum adalah :
- Preventive
maintenance dengan historical record yang baik akan menghasilkan kerja
yang lebih efektif karena kondisi peralatan produksi dapat termonitor.
- Bila
menggunakan metode inspeksi dengan program-program yang ketat akan
mengasilkan hasil yang baik dengan biaya relative cukup murah
dibandingkan dengan nilai perbaikan dari sebuah kerusakan yang terjadi.
- Siklus Overhaul peralatan produksi dapat diprakirakan dengan baik bila data historical record diperoleh dengan lengkap.
- Usaha untuk memperpanjang siklus overhaul akan berhasil bila data dari historical record lebih ketat.
- Makin akurat penentuan diagnosis kerusakan pada peralatan produksi maka biaya preventive maintenance semakin ekonomik.
Keuntungan dan Kerugian Preventive maintenance
Keuntungan dari preventive maintenance antara lain :
- Preventive
maintenance bersifat antisipasif, oleh karenanya bagian produksi maupun
bagian maintenance seharusnya dapat melakukan prakiraan dan penjadwalan
produksi yang baik.
- Preventive maintenance dapat meminimumkan waktu berhentinya peralatan produksi (down time).
- Preventive maintenance dapat meningkatkan mutu pengendalian suku cadang.
- Preventive maintenance dapat menurunkan tingkat kegiatan pekerjaan yang bersifat darurat.
Kerugian
dari Preventive maintenance adalah dapat terjadi pemborosan suku cadang
bila penggantian suku-suku cadang dilakukan sebelum rusak.
Dari berhasilnya program preventive maintenance yang baik maka perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :
- Suatu paket pencatatan (historical record) data maintenance yang baik.
- Adanya pengertian yang saling menunjang antara bagian produksi dan bagian maintenance.
- Para teknisi maintenance menunjukkan kemampuannya sebagai pekerja yang baik.
- Memiliki program inspeksi yang baik.
- Memiliki program perbaikan yang korektif.
- Preventive maintenance memiliki sistem administrasi yang baik.
Sumber : http://maintenance-group.blogspot.com