Tampilkan postingan dengan label Instalasi Listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Instalasi Listrik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

Cara Kerja Timer di Kelistrikan


Cara Kerja Timer

Pada saat timer ditenagai atau mendapatkan supply tegangan, maka timer akan mulai menghitung, ketika jumlah hitungan actual sama dengan setting ( jarum merah ), maka kontak output timer akan bekerja, Kontak timer berupa normally close (nc) dan normally open (no)

Ada beberapa item indikator pada bagian timer yang perlu diketahui :

  1. Power : Berfungsi sebagai indikator bahwa supply tegangan sudah masuk
  2. Out : Berfungsi sebagai indikator bahwa output timer kerja ( waktu actual = Set )
  3. A : Mode timer ( on delay mode )
  4. 0-12 : Scala timer ( bisa dirubah )
  5. Sec : Satuan timer dalam second / detik. ( bisa dirubah dalam satuan jam/hari )
  6. Jarum merah : Berfungsi sebagai indikator set, dirubah dengan cara diputar.
  7. Ratings
  8. Tegangan kerja : 100-240 Vac / 100-125 Vdc
  9. Kapasitas beban 5 A 250 Vac.
  10. Konsumsi daya : 1.6 Watt ( relay on ).


Salah satu contoh penggunaan timer adalah, digunakan untuk memberi delay / timing pada sarana input atau masukan dari sensor seperti photo sensor atau lainnya, sehingga ketika sensor bekerja, akan didelay terlebih dulu oleh timer tsb. Hal ini bertujuan melindungi rangkaian agar tidak on-off ketika sensor tertutup benda yang hanya sekilas lalu saja. ( dalam hal ini tergantung pemakaiannya ).

Kamis, 09 Agustus 2012

Standar kabel Indonesia - International

Produksi kabel harus memenuhi standar. Standar kabel yang  biasa digunakan adalah standar Industri Indonesia dan International, seperti :

  1. IEC : International Electrotechnical Commission
  2. VDE : Verband Deutscher Elektrotechniker
  3. BSi : British Standards Institution
  4. ASTM : American Society for Testing Materials
  5. NEMA  :  National Electrical Manufacturers Association
  6. SNI  :  Standar Nasional Indonesia (Indonesia National Standard)
  7. SPLN  :  Standar Perum Listrik Negara (National Electricity Company Standard)
  8. STEL  :  Standar Telekomunikasi (National Telecommunication Standard)
  9. DIN  :  Deutsche Industries Norm
  10. JIS  :  Japanese Industrial Standard

Sabtu, 16 Juni 2012

Definisi, Jenis dan Cara Kerja MCB


MCB atau pemutus tenaga berfungsi untuk memutuskan suatu rangkaian apabila adaarus yamg mengalir dalam rangkaian atau beban listrik yang melebihi kemampuan. Misalnyaadanya konsleting dan lainnya. Pemutus tenaga ini ada yang untuk satu phase dan ada yanguntuk 3 phase. Untuk 3 phase terdiri dari tiga buah pemutus tenaga 1 phase yang disusunmenjadi satu kesatuan. Pemutus tenaga mempunyai 2 posisi, saat menghubungkan makaantara terminal masukan dan terminal keluaran MCB akan kontak.

MCB bekerja dengan cara pemutusan hubungan yang disebabkan oleh aliran listrik lebih dengan menggunakan electromagnet/bimetal. cara kerja dari MCB ini adalah memanfaatkan pemuaian dari bimetal yang panas akibat arus yang mengalir untuk memutuskan arus listrik. Kapasitas MCB menggunakan satuan Ampere (A), Kapasitas MCB mulai dari 1A, 2A, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, 25A, 32A dll.  MCB yang digunakan harus memiliki logo SNI pada MCB tersebut
Cara mengetahui daya maximum dari MCB adalah dengan mengalikan kapasitas dari MCB tersebut dengan 220v ( tegangan umum di Indonesia ).

contoh
Untuk MCB 6A mempunyai kapasitas menahan daya listrik sebesar :
6A x 220v = 1.200 Watt
Beberapa kegunaan MCB :
  1. Membatasi Penggunaan Listrik
  2. Mematikan listrik apabila terjadi hubungan singkat ( Korslet )
  3. Mengamankan Instalasi Listrik
  4. Membagi rumah menjadi beberapa bagian listrik, sehingga lebih mudah untuk mendeteksi kerusakan instalasi listrik
Jenis-Jenis MCB

Berdasarkan waktu pemutusannya, pengaman-pengaman otomatis dapat terbagi atas:

1. Otomat-L (Untuk Hantaran)
Pada Otomat jenis ini pengaman termisnya disesuaikan dengan meningkatnya suhuhantaran. Apabila terjadi beban lebih dan suhu hantarannya melebihi suatu nilai tertentu,elemen dwi logamnya akan memutuskan arusnya. Kalau terjadi hubung singkat, arusnyadiputuskan oleh pengaman elekromagnetiknya. Untuk arus bolak-balik yang sama dengan 4In-6 In dan arus searah yang sama dengan 8 In pemutusan arusnya berlangsug dalam waktu0.2 detik.

2. Otomat-H (Untuk Instalasi Rumah)
Secara termis jenis ini sama dengan Otomat-L. Tetapi pengaman elektromagnetiknyamemutuskan dalam waktu 0,2 sekon, jika arusnya sama dengan 2,5 In–3 In untuk arus bolak- balik atau sama dengan 4 In untuk arus searah. Jenis Otomat ini digunakan untuk instalasirumah. Pada instalasi rumah, arus gangguan yang rendah pun harus diputuskan dengancepat. Sehingga jika terjadi gangguan tanah, bagian-bagian yang terbuat dari logam tidak akan lama bertegangan.

3. Otomat-G
Jenis Otomat ini digunakan untuk mengamankan motor-motor listrik kecil untuk arus bolak-balik atau arus searah, alat-alat listrik dan juga rangkaian akhir besar untuk  penerangan, misalnya penerangan pabrik. Pengaman elektromagnetiknya berfungsi pada 8In-11 In untuk arus bolak-balik atau pada 14 In untuk arus searah. Kontak-kontak sakelarnyadan ruang pemadam busur apinya memiliki konstruksi khusus. Karena itu jenis Otomat inidapat memutuskan arus hubung singkat yang besar, yaitu hingga 1500 ampere.

Cara kerja MCB

1. Thermis
; Prinsip kerjanya berdasarkan pada pemuaian atau pemutusan dua jenis logamyang koefisien jenisnya berbeda. Kedua jenis logam tersebut dilas jadi satu keping (bimetal)dan dihubungkan dengan kawat arus. Jika arus yang melalui bimetal tersebut melebihi arusnominal yang diperkenankan maka bimetal tersebut akan melengkung dan memutuskanaliran listrik.
2. Magnetik
; Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan arus hubung singkat yang cukup besar untuk menarik sakelar mekanik dengan prinsip induksi elektromagnetis. Semakin besar arushubung singkat, maka semakin besar gaya yang menggerakkan sakelar tersebut sehinggalebih cepat memutuskan rangkaian listrik dan gagang operasi akan kembali ke posisi off .Busur api yang terjadi masuk ke dalam ruangan yang berbentuk pelat-pelat, tempat busur apidipisahkan, didinginkan dan dipadamkan dengan cepat

Sabtu, 08 Oktober 2011

Start sistem pada genset

Sistem starting atau menghidupkan pada mesih genset diesel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

Manual
System start ini biasanya hanya digunakan pada mesin genset yang dayanya relative kecil, cara menghidupkannya dengan menggunakan penggerak engkol, jadi system ini bergantung pada faktor manusia sebagai operatornya.

Start Elektrik
System ini biasanya digunakan oleh mesin genset yang dayanya sedang, system ini menggunakan motor dengan sumber listriknya dari baterai atau accu dengan kekuatan 12 sampai 24volt untuk menghidupkannya. Cara kerjanya saat dinyalakan motor DC mendapatkan suplai listrik dari baterai atau accu yang lalu menghasilkan torsi yang dipakai menggerakkan mesin sampai mencapai putaran tertentu. Karena arus listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan motor DC maka digunakan Dinamo sebagai generator DC, pengisian ulang baterai atau menggunakan battery charger. Pada saat disel tidak bekerja maka suplai listrik charger didapat dari PLN, ketika diesel bekerja maka suplai listrik di dapat dari generator. Pengaman tegangan berfungsi untuk memonitor tegangan apabila baterai sudah mencapai tengangan standar 12-24V maka secara otomatis hubungan baterai charger dan baterai akan diputus oleh pengaman tegangan.

Start Kompresi
sistem ini biasanya digunakan oleh mesin genset yang dayanya besar, menggunakan motor dengan udara tekanan tinggi untuk start mesin diesel, cara kerjanya dengan menyimpan udara di dalam suatu botol udara kemudian udara tersebut di kompresi menjadi udara panas dan solar dimasukkna ke dalam fuel injection pump. Akibatnya terjadi pembakaran, pada saat tekanan turun pada batas minimum yg dibutuhkan maka kompresor secara otomatis akan mulai menaikkan tekanan udara di dalam tabung hingga mencukupi untuk menyalakan mesin diesel. 

Jumat, 09 September 2011

Preventive Maintenance (II)

Preventive maintenance adalah suatu pengamatan secara sistematik disertai analisis teknis-ekonomis untuk menjamin berfungsinya suatu peralatan produksi dan memperpanjang umur peralatan yang bersangkutan. Tujuan preventive maintenance adalah untuk dapat mencapai suatu tingkat pemeliharaan terhadap semua peralatan produksi agar diperoleh suatu kualitas produk yang optimum. Adapun kegiatan Preventive Maintenance meliputi:

  1. Inspeksi (inspection), adalah kegiatan pemeliharaan periodik untuk memeriksa kondisi komponen peralatan peralatan produksi dan area sekitar peralatan produksi. Lihat, rasa, dengar, adalah kegiatan pemeliharaan untuk memeriksa kondisi peralatan melalui penglihatan, perasaan dan pendengaran.

  2. Pemeliharaan berjalan (running maintenance), adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan tanpa mengehentikan kerja peralatan.

  3. Penggantian komponen kecil (small repair), adalah kegiatan pemeliharaan yang berupa penggantian komponen kecil.

  4. Pemeliharaan berhenti (shutdown maintenance), adalah pemeliharaan yang dapat dilakukan hanya pada saat peralatan produksi berhenti.

Dengan memanfaatkan prosedur maintenance yang baik, dimana terjadi koordinasi yang baik antara bagian produksi dan maintenance maka akan diperoleh:

  • Kuantitas Stop peralatan produksi dapat dikurangi (down time peralatan produksi diperkecil)

  • Biaya perbaikan yang mahal dapat dikurangi

  • Interupsi terhadap jadwal yang telah direncanakan waktu produksi maupun pemeliharaan dapat dihilangkan atau dikurangi.

Salah satu dari tujuan Preventive Maintenance adalah untuk menemukan suatu tingkat keadaan yang menunjukan gejala kerusakan sebelum alat-alat tersebut mengalami kerusakan fatal. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membuat perencanaan dan penjadwalan kegiatan maintenance dengan interupsi sekecil mungkin terhadap proses produksi.
Pada dasarnya tidak cukup hanya dengan membuat perencanaan penjadwalan (scheduled maintenance) yang matang akan tetapi perlu diperhatikan usaha-usaha untuk memusatkan perhatian pada unit-unit peralatan produksi yang dianggap rawan dan kritis. Suatu kualifikasi terhadap unit yang rawan didasarkan pada:

  1. Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan kerja.

  2. Kerusakan dapat mempengaruhi jalannya proses produksi dan kualitas produk.

  3. Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti.

  4. Modal yang tertanam pada unit tersebut dinilai cukup tinggi.


Untuk memelihara atau memeriksa seluruh unit secara ketat dan teratur hanya sekedar menghilangkan kemungkinan kerusakan pada peralatan produksi adalah suatu usaha yang tidak praktis karena memerlukan manusia-manusia dengan persyaratan tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Akibat bentuk dan saat terjadinya gangguan sangat sulit untuk diperkirakan secara dini, maka pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur dan periodik dari waktu ke waktu terhadap semua unit instalasi. Untuk melakukan hal tersebut maka dibutuhkan usaha-usaha pemeliharaan yang antara lain meliputi :

  1. Pemeliharaan rutin

  2. Pemeliharaan (sifatnya perbaikan) kecil/medium

  3. Bongkar seluruhnya (overhaul)

Pemeliharaan rutin adalah usaha pemeliharaan terhadap unit-unit instalasi yang dilakukan secara rutin dan periodik dengan interval waktu pelaksanaan yang tetap dan singkat.
Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pemeliharaan rutin pada dasarnya adalah usaha pemeliharaan yang dilakukan tanpa melelui proses pembongkaran. Bentuk pekerjaan dalam pemeliharaan rutin antara lain adalah:

  • Inspeksi rutin adalah merupakan peninjauan secara visual terhadap kondisi fisik komponen dari unit instalasi peralatan produksi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan secara rutin setiap satu hari sampai satu minggu sekali, tergantung kebutuhan.

  • Pengetesan rutin, merupakan usaha untuk mengatur atau memantau kondisi kerja suatu komponen sacara rutin agar komponen dapat diusahakan untuk beroperasi pada kondisi normal.


Kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan dalam pemeliharaan rutin misalnya :

  • Memeriksa fungsi dari mekanisme komponen

  • Memeriksa dan menyetel (adjustment)

  • Membersihkan

  • Mengencangkan bagian-bagian yang kendur


Pemeliharaan kecil/medium adalah usaha perbaikan-perbaikan ringan terhadap gejala gangguan yang berhasil terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Perbaikan ringan sangat penting peranannya dalam mencapai tingkat keberhasilan proses pemeliharaan yang dilakukan terhadap suatu komponen unit instalasi.

Kegiatan Overhaul pada mesin biasanya dilakukan secara periodik dan sangat teratur serta mempunyai konsentrasi dan perhatian yang lebih dibanding pemeriksaan rutin dan pemeliharaan kecil. Pada kegiatan ini dilakukan pembongkaran mesin untuk mengecek kondisi komponen mesin secara menyeluruh dimana dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan kerusakan yang terjadi pada mesin yang tidak dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan rutin. Contoh kegiatan seperti ini misalnya pada penggantian batu tahan api di tanur/kiln pabrik semen.

Disamping dilakukan pemeliharaan dengan perencanaan dan penjadwalan yang matang, didalam preventive maintenance dikenal pula kegiatan yang sering disebut dengan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dapat diartikan sebagai strategi pemeliharaan dimana pelaksanaannya didasarkan pada kondisi peralatan produksi itu sendiri

Mengingat tingkat kepastian 100% tidak pernah ada maka orang lebih suka menggunakan istilah prediksi atau perkiraan untuk memastikan pendapatnya. Dalam menduga-duga inipun pada dasarnya dibutuhkan dukungan data dan pengetahuan yang cukup mendalam tentang perilaku dari peralatan produksi yang diamati.

Beberapa contoh dukungan pengetahuan yang diperlukan untuk mengantisipasi keadaan ini antara lain :

  • Penguasaan prinsip kerja alat yang bersangkutan.

  • Penguasaan karakteristik alat.

  • Pengalaman pengoperasian alat yang sama di masa lalu baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

  • Penguasaan dan pengambilan data yang tepat.

  • Penguasaan pengolahan data.

  • Kemampuan mengkorelasikan antara satu kejadian dengan kejadian lain dalam kaitannya dengan bidang maintenance.

  • Berwawasan luas dalam bidang peralatan produksi kaitannya dengan kemajuan teknologi.


Seperti telah diketahui, preventive maintenance berfungsi menangani langsung hal-hal yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada fasilitasfasilitas yang dilakukan dengan jalan memeriksa alat/fasilitas secara teratur dan berkala serta memperbaiki kerusakan kecil yang dijumpai selama pemeriksaan. Bagaimanapun baiknya kondisi suatu peralatan produksi yang telah direncanakan, keausan dan kerusakan selama pemakaian pada umumnya masih dapat terjadi, namun demikian laju keausan dan kerusakan ini masih dapat diperkirakan besarnya bila peralatan produksi/alat dipakai dalam kondisi normal.

Khususnya dalam bidang peralatan listrik dan elektronika sering diperingatkan bahwa kerusakan-kerusakan komponen listrik adalah bahaya yang selalu mangancam sehingga tidak ada alat/instrument yang dapat memeriksa dan mengukur terhadap kerusakan komponen secara detail. Yang umum dilakukan dalam praktek, contohnya adalah mengganti semua bola lampu listrik dalam waktu tertentu, jadi tidak menggantinya satu persatu setelah bola lampu tersebut padam. Hal yang sama juga pada dilakukan pada menggantian bearing pada peralatan produksi.

Contoh diatas adalah contoh kasus dari pendekatan predictive maintenance. Predictive maintenance juga merupakan suatu teknik yang banyak dipakai dalam cara produksi berantai dimana bila ada gangguan darurat sedikit saja pada sistem produksi tersebut akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Seperti misalnya sistem produksi dengan sistem inline process, apabila proses produksi tersebut terhenti karena kerusakan yang terjadi pada inline process tersebut maka dapat dibayangkan kegagalan produksi yang terjadi.



Jadi Predictive maintenance adalah merupakan bentuk baru dari Planned Maintenance dimana penggantian komponen/suku cadang dilakukan lebih awal dari waktu terjadinya kerusakan. Untuk membantu melaksanakan predictive maintenance terdapat suatu diagram analisa predictive yang sering digunakan yang mengacu pada kondisi peralatan produksi besangkutan. Diagram analisa ini sering dikenal dengan instilah Bath Tube Curve karena grafik yang dihasilkan yang menyerupai bak mandi.

Pada diagram analisa tersebut dibagi menjadi 3 phase lifetime dari suatu peralatan produksi. Phase I atau sering juga disebut dengan early failure karena pada phase ini peralatan produksi dalam kondisi running in/masih baru (penyesuaian) dan pertama kali dioperasikan maka permukaan kerja (working surface) dari peralatan produksi masih kasar. Pada kondisi ini terdapat proses penghalusan permukaan tersebut karena terjadinya kontak kerja permukaan. Setelah melewati phase ini, karena permukaan bidang kerja sudah halus maka tingkat kontak kerja permukaan juga sudah menurun karena permukaan kerja peralatan produksi sudah pada kondisi stabil. Phase II ini dikenal sebagai useful life-period. Pada periode inilah yang akan menentukan umur peralatan produksi sebenarnya. Karena permukaan bidang kerja mempunyai lapisan kekerasan dengan ketebalan yang terbatas maka bila lapisan keras ini sudah habis terkikis maka laju keausan/kerusakan akan meningkat kembali. Hal ini akan berlangsung selama phase III yang dikenal sebagai periode keausan cepat (wearing out period).

Pada contoh kasus penggantian bearing peralatan produksi, dengan mengacu pada diagram analisa predictive tersebut maka penggantian sebaiknya dilakukan sebelum phase III atau menjelang phase II berakhir dengan demikian kondisi bearing tidak sampai rusak parah sehingga kerusakan pada peralatan produksi yang fatal akibat hancurnya bearing dapat dihindari dan tidak merambat pada komponen yang lain sehingga terhentinya proses produksi yang lama dapat dicegah.

Dalam predictive maintenance terdapat beberapa metode dalam mamantau atau monitoring kondisi dari suatu peralatan produksi, antara lain :

  1. Monitoring minyak pelumas Dengan cara mengambil sample oli dari peralatan produksi untuk mengecek kekentalannya atau melihat kuantitas oli yang masih tersimpan di tangki oli sesuai dengan anjuran dari manual book mesin merupakan cara-cara untuk monitoring minyak pelumas.

  2. Monitoring Visual Metode ini menggunakan panca indera yang meliputi lihat, rasa, dengar guna mengetahui kondisi mesin. Untuk lebih akurat bisanya digunakan alat Bantu.

  3. Monitoring kinerja Merupakan teknik monitoring kondisi peralatan produksi dengan cara memeriksa dan mengukur parameter kinerja dan kemudian dibandingkan dengan standarnya.

  4. Monitoring Geometris Diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan produksi dapat diketahui dan kemudian dilakukan kegiatan meliputi pengukuran leveling dan pengukuran posisi (alignment).

  5. Monitoring getaran Monitoring ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara rutin dan terus menerus sehingga getaran yang akan mengakibatkan kerusakan peralatan produksi lebih lanjut dapat dicegah.


Historical record pada Preventive maintenance

Pencatatan riwayat peralatan produksi yang dirawat perlu dilakukan untuk memantau perkembangan dan kondisi peralatan produksi dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pencatatan riwayat peralatan produksi secara umum adalah :

  1. Preventive maintenance dengan historical record yang baik akan menghasilkan kerja yang lebih efektif karena kondisi peralatan produksi dapat termonitor.

  2. Bila menggunakan metode inspeksi dengan program-program yang ketat akan mengasilkan hasil yang baik dengan biaya relative cukup murah dibandingkan dengan nilai perbaikan dari sebuah kerusakan yang terjadi.

  3. Siklus Overhaul peralatan produksi dapat diprakirakan dengan baik bila data historical record diperoleh dengan lengkap.

  4. Usaha untuk memperpanjang siklus overhaul akan berhasil bila data dari historical record lebih ketat.

  5. Makin akurat penentuan diagnosis kerusakan pada peralatan produksi maka biaya preventive maintenance semakin ekonomik.


Keuntungan dan Kerugian Preventive maintenance

Keuntungan dari preventive maintenance antara lain :

  1. Preventive maintenance bersifat antisipasif, oleh karenanya bagian produksi maupun bagian maintenance seharusnya dapat melakukan prakiraan dan penjadwalan produksi yang baik.

  2. Preventive maintenance dapat meminimumkan waktu berhentinya peralatan produksi (down time).

  3. Preventive maintenance dapat meningkatkan mutu pengendalian suku cadang.

  4. Preventive maintenance dapat menurunkan tingkat kegiatan pekerjaan yang bersifat darurat.


Kerugian dari Preventive maintenance adalah dapat terjadi pemborosan suku cadang bila penggantian suku-suku cadang dilakukan sebelum rusak.

Dari berhasilnya program preventive maintenance yang baik maka perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Suatu paket pencatatan (historical record) data maintenance yang baik.

  2. Adanya pengertian yang saling menunjang antara bagian produksi dan bagian maintenance.

  3. Para teknisi maintenance menunjukkan kemampuannya sebagai pekerja yang baik.

  4. Memiliki program inspeksi yang baik.

  5. Memiliki program perbaikan yang korektif.

  6. Preventive maintenance memiliki sistem administrasi yang baik.
Sumber : http://maintenance-group.blogspot.com

Minggu, 03 April 2011

KONDUKTOR, ISOLATOR DAN SEMIKONDUKTOR

Bahan - bahan yang berhubungan dengan arus listrik dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :


1. Bersifat Konduktor
2. Bersifat Isolator
3. Bersifat Semikonduktor


Penjelasannya :

1. Bahan - bahan yang bersifat konduktor ialah bahan - bahan yang mudah mengalirkan arus listrik jika dihubungkan dengan sumber tegangan.
Misalnya : tembaga, besi, emas, dll
dari bahan - bahan yang paling bagus untuk mengalirkan arus listrik adalah EMAS.
karena pada bahan konduktor mempunyai banyak sekali elektron bebas, yang paling banyak elektron bebasnya adalah emas.



2. Bahan - bahan yang bersifat isolator ialah bahan - bahan yang akan menghambat arus listrik bila dihubungkan dengan sumber tegangan.
Misalnya : gelas, kaca, karet, kayu, dll
kenapa tidak dapat menghantarkan arus listrik ?

karena dalam bahan yang bersifat isolator seluruh lintasan elektronnya memiliki ikatan yang kuat dengan intinya atau dengan kata lain pada bahan isolator tidak mempunyai elektron bebas sehingga walau diberi tegangan listrik tidak akan membuat elektron - elektronnya bergerak.


3. Bahan - bahan yang bersifat semikonduktor ialah bahan - bahan yang pada kondisi tertentu akan bersifat sebagai isolator dan pada kondisi lain akan bersifat sebagai konduktor
Misalnya : germaniun, silicon, dll

kapan bahan - bahan semikonduktor dapat bersifat isolator dan bersifat konduktor ?

Bahan - bahan tersebut akan bersifat isolator jika dalam temperatur yang rendah.

Bahan - bahan tersebut akan bersifat konduktor jika dalam temperatur tinggi.

menggapa demikian ?

karena dalam temperatur rendah seluruh lintasan elektron terisi penuh oleh elektron, dan ketika dalam temperatur tinggi karena pada temperatur yang tinggi akan ada ikatan - ikatan yang pecah sehingga menyebabkan adanya elektron - elektron bebas.

Sumber : http://www.listrik.jw.lt/

Kamis, 25 Februari 2010

Tips merawat instalasi listrik di rumah

Ada istilah, rumahmu adalah istanamu. Jika di hubungkan dengan kelistrikan di rumah, benang merahnya adalah dengan menggunakan kelistrikan yang baik, maka rumah kita menjadi tempat yang nayaman, tempat bercengkrama dengan keluarga, aman dan tentram. Kelistrikan yang baik untuk di rumah merupakan faktor penunjang utama dalam mewujudkan "rumahmu adalah istanamu".

Sistem kelistrikan di rumah ataupun bangunan lainnya memerlukan perawatan yang tidak terlalu sulit, bahkan sangat mudah.

Kabel yang terpasang dari jaringan tegangan rendah (JTR), kabel pada sambungan rumah (SR) sampai dengan alat pembatas dan pengukuran (KWH) merupakan tanggung jawab PLN dan tidak di perbolehkan di manipulasi. Sedangkan rangkaian kabel listrik dalam rumah merupakan sepenuhnya tanggung jawab dari pemilik rumah / bagunan .

Berikut merupakan tips merawat instalasi kelistrikan/listrik di rumah anda :
  1. Pastikan instalasi kelistrikan/listrik di rumah anda terpasang dengan tepat, benar dan aman serta menggunakan kompone-komponen listrik yang memiliki standar dan dengan kapasitas yang sesuai.
  2. Lakukan pemeriksaan rutin terhadap kelistrikan/listrik di rumah, 1 tahun sekali merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemerikasaan. Segeralah perbaiki jika menemukan adanya ketidaksesuaian dalam instalasi.
  3. Jika istalasi lisrik lebih dari 5 tahun, usahakanlah untuk di rehabilitasi untuk menghindari adanya kebocoran-kebocoran dalam jaringan, seperti akibat gigitan tikus, terjepit dll.
  4. Pergunakan peralatan rumah tangga elektronik yang sesuai dengan daya terpasang dan hindari penggunaan yang berlebihan.
  5. Sebaiknya jika akan merehabilitasi jaringan kelistrikan di rumah anda alangkah baiknya menggunakan jasa instalatir yang berpengalaman, jika merasa kesulitan mencari hubungi kantor PLN terdekat.

Jumat, 12 Februari 2010

Syarat standar rancangan instalasi listrik ( part 1 )

Rancangan instalasi listrik ialah berkas gambar rancangan dan uraian teknik, yang di gunakan sebagai pedoman untuk melaksanakan pemasangan suatu instalasi listrik.

Rancangan instalasi listrik harus di buat dengan jelas, serta mudah di baca dan di pahami oleh para teknisi listrik, untuk itu ketentuan dasar harus di mengeti.

Rancangan instalasi listrik harus terdiri dari :

1. Gambar situasi, yang menunjukan dengan jelas letak gedung atau bangunan tempat instalasi tersebut akan di pasang dan rancangan penyambungannya dengan sumber tenaga listrik.

2. Gambar instalasi yang meliputi :
  • Rancangan tata letak yang menunjukan dengan jelas letak perlengkapan listrik beserta sarana kendalinya (pelayananya), seperti titik lampu, kontak-kontak, sakelar, motor listrik, PHB dll.
  • Rancangan hubungan perlengkapan listrik dengan gawai pengendalinya seperti lampu dengan saklarnya, motor dengan pengasutannya, dengan gawai pengatur kecepatannya, yang merupakan bagian dari sirkit akhir atau cabang sirkit akhir.
  • Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir terakhir dan PHB yang bersangkutan, ataupun pemberian tanda dan keterangan yang jelas mengenai hubungan tersebut.
  • Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik.
3. Diagram garis tunggal, yang meliputi.
  • Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran pengenal komponennya.
  • Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembagiannya.
  • Sistem pembumian yang sesuai syarat pembumian.
  • Ukuran dan jenis penghantar yang di pakai.
4. Gambar rinci yang meliputi :
  • Perkiraan ukuran fisik PHB.
  • Cara pemasangan perlengkapan listrik.
  • Cara pemasangan kabel.
  • Cara kerja instalasi kendali
5. Perhitungan teknis bila di anggap perlu, diantaranya :
  • Susut tegangan.
  • Perbaikan faktor daya.
  • Beban terpasang dan kebutuhan maksimum.
  • Arus hubung pendek dan daya hubung pendek.
  • Tingkat penerangan.
6. Tabel bahan instalasi, yang meliputi :
  • Jumlah dan jenis kabel, penghantar dan perlengkapan.
  • Jumlah dan jenis perlengkapan bantu.
  • Jumlah dan jenis PHB.
  • Jumlah dan jenis luminer lampu.
7. Uraian teknis, yang meliputi :
  • Ketentuan mengenai sistem proteksi.
  • Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya.
  • Cara pengujian.
  • Jadwal waktu pelaksanaan.
8. Perkiraan biaya.

Rabu, 03 Februari 2010

Semua Tentang Listrik ada disini

Mulai saat ini saya akan membagikan beberapa informasi mengenai kelistrikan.

Sebenarnya ini adalah curahan hati mengenai keliastrikan yang sudah hampir saya lupakan.

Kamus Listrik Rangking

 

Site Info


Google Sitemap Generator
Bloglisting.net - The internets fastest growing blog directory Engineering Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Kamus Listrik Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template