Tampilkan postingan dengan label Transmisi dan Gardu Listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transmisi dan Gardu Listrik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Pengujian Transformator

Pengujian transformator dilaksanakan menurut SPLN’50-1982 dengan melalui tiga macam pengujian, sebagaimana diuraikan juga dalam IEC 76 (1976), yaitu:
a. Pengujian Rutin
Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap setiap transformator, meliputi:

  • pengujian tahanan isolasi
  • pengujian tahanan kumparan
  • pengujian perbandingan belitan
  • pengujian vector group
  • pengujian rugi besi dan arus beban kosong
  • pengujian rugi tembaga dan impedansi
  • pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
  • pengujian tegangan induksi (Induce Test).

b. Pengujian Jenis
Pengujian jenis adalah pengujian yang dilaksanakan terhadap sebuah transformator yang mewakili transformator lainnya yang sejenis, untuk menunjukkan bahwa semua transformator jenis ini memenuhi persyaratan yang belum diliput oleh pengujian rutin. Pengujian jenis terdiri dari pengujian:

  • pengujian kenaikan suhu
  • pengujian impedansi

c. Pengujian khusus
Pengujian khusus adalah pengujian yang lain dari uji rutin dan jenis, dilaksanakan atas persetujuan pabrik denga pembeli dan hanya dilaksanakan terhadap satu atau lebih transformator dari sejumlah transformator yang dipesan dalam suatu kontrak. Pengujian khusus meliputi :

  • dielektrik
  • pengujian impedansi urutan nol pada transformator tiga phasa
  • hubung singkat
  • harmonik pada arus beban kosong
  • tingkat bunyi akuistik
  • daya yang diambil oleh motor-motor kipas dan pompa minyak.

d. Pengujian rutin
Yang termasuk pengujian rutin adalah pengukuran tahanan isolasi. Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada awal pengujian dimaksudkan untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi transformator, untuk menghindari kegagalan yang fatal dan pengujian selanjutnya, pengukuran dilakukan antara:
• sisi HV-LV
• sisi HV-Ground
• sisi LV-Groud
• X1/X2-X3/X4 (transformator 1 phasa)
• X1-X2 dan X3-X4 ) transformator 1 phasa yang dilengkapi dengan circuit breaker.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan megger, lebih baik yang menggunakan baterai karena dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Harga tahanan isolasi ini digunakan untuk kriteria kering tidaknya transformator, juga untuk mengetahui apakah ada bagian-bagian yang terhubung singkat.
e. Pengukuran tahanan kumparan
Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila
kumparan tersebut dialiri arus. Nilai tahanan belitan dipakai untuk perhitungan rugi-rugi tembaga transformator. Pada saat melakukan pengukuran yang perlu diperhatikan adalah suhu belitan pada saat pengukuran yang diusahakan sama dengan suhu udara sekitar, oleh karenanya diusahakan arus pengukuran kecil.

Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tahanan di atas 1 Ohm adalah Wheatstone Bridge, sedangkan untuk tahanan yang lebih kecil dari 1 ohm digunakan Precition Double Bridge. Pengukuran dilakukan pada setiap phasa transformator, yaitu antara terminal:
1) Pengukuran pada terminal tegangan tinggi
a) Pada transformator 3 phasa
- phasa A - phasa B
- phasa B - phasa C
- phasa C - phasa A
b) Transformator 1 phasa
Terminal H1-H2 untuk transformator double bushing dan Terminal H dengan Ground untuk transformator single bushing dan pengukuran sisi tegangan rendah
c) Pada transformator 3 phasa
- phasa a - phasa b
- phasa b - phasa c
- phasa c - phasa a
d) Transformator 1 phasa (terminal X1-X4 dengan X2-X3 dihubung singkat).


f. Pengukuran perbandingan belitan
Pengukuran perbandingan belitan adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah kumparan sisi tegangan tinggi dan sisi tegangan rendah pada setiap tapping, sehingga tegangan output yang dihasilkan oleh transformator sesuai dengan yang dikehendaki, toleransi yang diijinkan adalah:

  • a. 0,5 % dari rasio tegangan atau
  • b. 1/10 dari persentase impedansi pada tapping nominal.

Pengukuran perbandingan belitan dilakukan pada saat semi assembling yaitu, setelah coil transformator diassembling dengan inti besi dan setelah tap changer terpasang, pengujian kedua ini bertujuan untuk mengetahui apakah posisi tap transformator telah terpasang secara benar dan juga untuk pemeriksaan vector group transformator. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan Transformer Turn Ratio Test (TTR), misalnya merk Jemes G. Biddle Co Cat. No.55005 atau Cat. No. 550100-47.
g. Pemeriksaan vector group

Pemeriksaan vector group bertujuan untuk mengetahui apakah polaritas terminal-terminal transformator positif atau negatif. Standar dari notasi yang dipakai adalah Additive dan Subtractive.


h. Pengukuran rugi dan arus beban kosong
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui berapa daya yang hilang yang disebabkan oleh rugi histerisis dan eddy current dari inti besi (core) dan besarnya arus yang ditimbulkan oleh kerugian tersebut. Pengukuran dilakukan dengan memberikan tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. suhu acuan 75ºC


i. Pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji kekuatan isolasi antara kumparan dan body tangki. Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan uji sesuai dengan standar uji dan dilakukan pada:

  • tegangan tinggi terhadap sisi tegangan rendah dan body yang di ke tanahkan
  • tegangan rendah terhadap sisi tegangan tinggi dan body yang di ke tanahkan
  • pengujian 60 detik


j. Pengujian tegangan induksi
Pengujian tegangan induksi bertujuan untuk mengetahui kekuatan isolasi antara layer dari tiap-tiap belitan dan kekuatan isolasi antara belitan transformator.
Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan supply dua kali tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. Untuk mengatasi kejenuhan pada inti besi (core) maka frekuensi yang digunakan harus dinaikkan sesuai denga kebutuhan. Lama pengujian tergantung pada besarnya frekuensi pengujian dan waktu pengujian maksimum adalah 60 detik.


k. Pengujian kebocoran tangki
Pengujian kebocoran tangki dilakukan setelah semua komponen transformator sudah terpasang. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kondisi paking dan las transformator. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan nitrogen (N2) sebesar kurang lebih 5 psi dan dilakukan pengamatan pada bagian-bagian las dan paking dengan memberikan cairan sabun pada bagian tersebut. Pengujian dilakukan sekitar 3 jam apakah terjadi penurunan tekanan.

l. Pengujian jenis (Type Test)
a) Pengujian kenaikan suhu
Pengujian kenaikan suhu dimaksudkan untuk mengetahui berapa kenaikan suhu oli dan kumparan transformator yang disebabkan oleh rugi-rugi transformator apabila transformator dibebani. Pengujian inijuga bertujuan untuk melihat apakah penyebab panas transformator sudah cukup effisien atau belum.
Pada transformator dengan tapping tegangan di atas 5% pengujian kenaikan suhu dilakukan pada tappng tegangan terendah (arus tertinggi), pada transformator dengan tapping maksimum 5% pengujian dilakukan pada tapping nominal. Pengujian kenaikan suhu sama dengan pengujian beban penuh, pengujian dilakukan dengan memberikan arus transformator sedemikian hingga membangkitkan rugi-rugi transformator, yaitu rugi beban penuh dan rugi beban kosong.
b) Pengujian tegangan impulse
Pengujian impulse ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik dari sistem isolasi transformator terhadap tegangan surja petir. Pengujian impuls adalah pengujian dengan memberi tegangan lebih sesaat dengan bentuk gelombang tertentu. Bila transformator mengalami tegangan lebih, maka tegangan tersebut hampir didistribusikan melalui effek kapasitansi yang terdapat pada :
- antar lilitan transformator
- antar layer transformator
- antara coil dengan ground
c) Pengujian tegangan tembus oli
Pengujian tegangan tembus oli dimaksudkan mengetahui kemampuan dielektrik oli. Hal ini dilakukan karena selain berfungsi sebagai pendingin dari transformator, oli juga berfungsi sebagai isolasi. Persyaratan yang ditentukan adalah sesuai denga standart SPLN 49 - 1 : 1982, IEC 158 dan IEC 296 yaitu:
> = 30 KV/2,5 mm sebelum purifying
> = 50 KV/2,5 mm setelah purifying
Peralatan yang dapat digunakan misalnya merk hipotronics type EP600CD.
Cara pengujian adalah sebagai berikut:
􀂃 bersihkan tempat contoh oli dari kotoran dengan mencucinya dengan oli sampai bersih
􀂃 ambil contoh oli yang akan diuji, usahakan pada saat pengambilan contoh oli tidak tersentuh tangan atau terlalu lama terkena udara luar karena oli ini sangat sensitive
􀂃 tempatkan contoh oli pada alat tetes
􀂃 nyalakan power alat tetes
􀂃 tekan tombol start dan counter akan mencatat secara otomatis sejauh mana kemampuan dielektrik oli tersebut. Setelah counter berhenti dan tombol reset menyala, tekan tombol reset untuk mengembalikan ke posisi semula
􀂃 hasil pengujian tegangan tembus diambil rata-ratanya setelah dilakukan 5 (lima) kali dengan selang waktu 2 menit. 4. Pencampuran Minyak Transformator Shell Diala B dengan Univolt 80.Minyak transformator memiliki dua fungsi yang sangat signifikan, yaitu sebagai pendingin dan isolator. PLN sebagai perusahaan penyedia listrik nasional beserta LMK menetapkan bahwa minyak transformator standar yang digunakan di Indonesia adalah Shell Diala B. Tetapi pada praktiknya di lapangan masih ditemui penggunaan dan pencampuran minyak transformator antara merk Shell Diala B dengan Univolt 80. Pencampuran terjadi ketika minyak transformator di dalam transformator memiliki merk. Shel Diala B dan Oil additional oil hose memiliki merk Univolt 80. Proses pencampuran minyak transformator shell Diala B dengan Univolt 8.0 terjadi pada saat proses purifikasi. Berikut adalah langkahlangkah atau proses purifikasi minyak transformator:
1. Pemasangan pipa-pipa penghubung antara transformator dengan mesin purifikasi
2. Pengel udara dalam pipa
3. Pembukaan inlet dan outlet valve
4. Penambahan minyak transformator dari additional oil hose
5. Filterisasi
Pencampuran kedua jenis minyak ini dilakukan dengan mengacu hasil pengujian atau pemeriksaan terhadap sampel-sampel yang dilakukan di Laboratorium PLN. Untak mengetahui keandalan dari penggunaan minyak Shell Diala B, Univolt 80 dan campurannya dilakukan pengujian terhadap tujuh sampel dari minyak baru tersebut. Sifat yang diuji adalah berat jenis pada 20 derajat celcius, viskositas kinematik pada 20 derajat celcius, titik nyala, angka kenetralan, uji korosipengeringan tembaga, tegangan tembus dan ketahanan oksidasi (kadar kotoran). Pencampuran memiliki perbandingan, yaitu:
Kode Contoh I Univolt 80 100%
Kode Contoh II Univolt 80 80% Shell Diala B 20%
Kode Contoh III Univolt 80 60% Shell Diala B 40%
Kode Contoh IV Univolt 80 50% Shell Diala B 50%
Kode Contoh V Univolt 80 40% Shell Diala B 60%
Kode Contoh VI Univolt 80 20% Shell Diala B 80%
Kode Contoh VII Shell Diala B 100%.
Minyak Univolt 80, Shell Diala B dan campurannya memiliki sifat penyerapan terhadap udara luar yang relatif sama. Kedua jenis minyak ini memiliki sifat-sifat awal yang sesuai dengan spesifikasi minyak isolasi berdasarkan SPLN 49-1,1982. Dari viskositasnya tampak bahwa kedua jenis minyak transformator ini termasuk kelas satu. Berdasarkan hasil pengupan nampak bahwa sifat-sifat campuran kedua, minyak masih berada diantara sifat-sifat kedua minyak, ini berarti tidak ada pengaruh reaksi antara rninyak Shell Diala B dengan Univolt 80 yang dapat menyebabkan sifat-sifat bergeser dari sifat-sifat awalnya. Berdasarkan
hasil uji viskositasnya, campuran minyak Shell Diala B dengan Univolt 80 dalam berbagai perbandingan termasuk dalam kelas satu.
5. Keselamatan Kerja
Peraturan-peraturan dasar yang menyangkut semua peralatan listrik berlaku pula untuk nsformator dengan berapa ciri khas. Bila mengadakan perbaikan dan pemeliharaan sebuah transformator yang perlu dan penting untuk diperhatikan adalah melepaskan transformator dari semua hubungan pada sisi primer maupun pada sisi sekunder. Maksud melepaskan sisi sekunder menjaga kemungkinan terjdinya suatu umpan balik setelah dilepaskan, alat pembukannya dikunci dalam posisi terbuka. Jika mempergunakan sekering kawat lebur ini perlu disimpan untuk menjaga sengaja dipasang lagi oleh orang lain. Setelah dilepaskan, kumparan primer dan skunder dihubungkan dengan tanah untuk menghilangkan kemungkinan masih adanya sisa, energi di dalam transformator. Pentanahan ini baru dilepaskan setelah semua pekerjaan selesai. Walaupun jaraknya lebih jauh, pentanahan bejana transformator diperiksa apakah berada dalam keadaan baik. Jika bejana akan dibuka karena diperlukan pemeriksaan didalamnya, harus dan perhatikan bahwa di dalam bejana tidak akan terdapat suatu tekanan. Hal ini dilakukan dengan bantuan sebuah katup yang terletak di atas cairan isolasi. Jika dipergunakan gas, mulai bejana transformator harus dikosongkan dan
diisi dengan udara bersih. Perhatian yang khusus harus diberikan bila transformator mempergunakan bahan askarel sebagai cairan isolasi. Bahan askarel ini
hendaknya jangan terkena kulit karena mempunyai efek, terutama pada mata, hidung dan bibir yang dapat menjadi serius. Transformator yang berisi askarel hendaknya juga jangan dibuka jika masih berada dalam keadaan pahas, karena uapnya racun. Jika tidak dapat dihindari untuk membuka transformator dalam keadaan panas, agar hal itu dilakukan ditempat yang mempunyai ventilasi yang baik, dan personil perlu dihindari dari kena uapnya. Perlu merupakan suatu prosedur tetap bila seseorang memasuki sebuah bejana transformator, agar dijaga dan dibantu oleh seorang lain yang berada di luarnya. Perhatian agar alat-alat seperti obeng, tang dan lain sebagainya tidak tertinggal di dalam jika pekerjaan selesai. Sebaliknya disusun suatu daftar peralatan yang dipakai, dan yang tepat diperiksa, setelah pekerjaan selesai dan sebelum disambungkan pada sumber pada sumber listrik, perlu diperhatikan bahwa semua keadaan telah aman dan
baik.


Tags : pengujian transformator, trafo uji , pngujian trafo, cara uji trafo, cara uji transformator

Tipe-tipe Switchgear

A piece of switchgear may be a simple open-air isolator switch or it may be insulated by some other substance. An effective although more costly form of switchgear is gas insulated switchgear (GIS), where the conductors and contacts are insulated by pressurized sulfur hexafluoride gas (SF6). Other common types are oil or vacuum insulated switchgear.

The combination of equipment within the switchgear enclosure allows them to interrupt fault currents of thousands of amps. A circuit breaker (within a switchgear enclosure) is the primary component that interrupts fault currents. The quenching of the arc when the ciruit breaker pulls apart the contacts open (disconnects the circuit) requires careful design. Circuit breakers fall into these four types:

  • Oil circuit breakers rely upon vaporization of some of the oil to blast a jet of oil through the arc.
  • Gas (SF6) circuit breakers sometimes stretch the arc using a magnetic field, and then rely upon the dielectric strength of the SF6 to quench the stretched arc.
  • Vacuum circuit breakers have minimal arcing (as there is nothing to ionize other than the contact material), so the arc quenches when it is stretched a very small amount (<2–3 mm). Vacuum circuit breakers are frequently used in modern medium-voltage switchgear to 35,000 volts.
  • Air circuit breakers may use compressed air (puff) to blow out the arc, or alternatively, the contacts are rapidly swung into a small sealed chamber, the escaping of the displaced air thus blowing out the arc.

Circuit breakers are usually able to terminate all current flow very quickly: typically between 30 ms and 150 ms depending upon the age and construction of the device.

Several different classifications of switchgear can be made[3]:

  • By the current rating.
  • By interrupting rating (maximum short circuit current that the device can safely interrupt)
    • Circuit breakers can open and close on fault currents
    • Load-break/Load-make switches can switch normal system load currents
    • Isolators may only be operated while the circuit is dead, or the load current is very small.
  • By voltage class:
    • Low voltage (less than 1,000 volts AC)
    • Medium voltage (1,000–35,000 volts AC)
    • High voltage (more than 35,000 volts AC)
  • By insulating medium:
    • Air
    • Gas (SF6 or mixtures)
    • Oil
    • Vacuum
  • By construction type:
    • Indoor (further classified by IP (Ingress Protection) class or NEMA enclosure type)
    • Outdoor
    • Industrial
    • Utility
    • Marine
    • Draw-out elements (removable without many tools)
    • Fixed elements (bolted fasteners)
    • Live-front
    • Dead-front
    • Open
    • Metal-enclosed
    • Metal-clad
    • Metal enclose & Metal clad
    • Arc-resistant
    • By IEC degree of internal separation [4]
      • No Separation (Form 1)
      • Busbars separated from functional units (Form 2a, 2b, 3a, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from busbars (Form 2b, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from functional units but not from each other (Form 3a, 3b)
      • Functional units separated from each other (Form 3a, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from each other (Form 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separate from their associated functional unit (Form 4b)
  • By interrupting device:
  • By operating method:
    • Manually-operated
    • Motor-operated
    • Solenoid/stored energy operated
  • By type of current:
    • Alternating current
    • Direct current
  • By application:
    • Transmission system
    • Distribution
  • By purpose

A single line-up may incorporate several different types of devices, for example, air-insulated bus, vacuum circuit breakers, and manually-operated switches may all exist in the same row of cubicles.

Ratings, design, specifications and details of switchgear are set by a multitude of standards. In North America mostly IEEE and ANSI standards are used, much of the rest of the world uses IEC standards, sometimes with local national derivatives or variations.


Maaf belum sempat translate neeh ;-)

Apasih Switchgear ??

Switchgear adalah panel distribusi yang mendistribusikan beban kepanel-panel yang lebih kecil kapasitasnya. Dalam bahasa Indonesia artinya Panel Tegangan Menengah (PTM) atau juga disebut MVMDB (Medium Voltage Main distribution Board) dan sedangkan untuk tegangan rendah disebut LVMDB (Low Voltage Main Distribution Board).

Pada pelaksanaannya banyak pelaku dilapangan menggunakan istilah yang berbeda-beda, kadang ada yang menyebut Distribution Board, Switchgear, MCC, Panel dan sebagainya.

Source : wikipedia.

Switchgear itu pada prinsipnya sama dengan panel distribusi. Yaitu mendistribusikan beban kepanel-panel yang lebih kecil kapasitasnya. Mungkin kalau dibahasa indonesiakan Panel Tegangan Menengah (PTM) atau juga disebut MVMDB (Medium Voltage Main distribution Board) dan kalau utk teg. Rendahnya disebut LVMDB (Low Voltage Main Distribution Board).
Pada pelaksanaannya dilapangan banyak pelaku dilapangan menggunakan istilah yang berbeda-beda, kadang ada yang menyebut Distribution Board, Switchgear, MCC, Panel dsb.

Source : migas-indonesia

Switchgear adalah panel hubung bagi yang berfungsi untuk menempatkan komponen – komponen listrik dalam sistem distribusi tenaga listrik. Gangguan pada switchgear dapat mempengaruhi kelangsungan pasok energi listrik sehingga mengganggu operasi mesin dan kinerja unit menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu SDM yang kompeten, pelatihan ini dapat memberikan solusi terhadap masalah pemeliharaan switchgear di unit pembangkit.

Source : PLN-Pusdiklat



Tags : switchgear, apakah Switchgear, fungsi dari Switchgear, Switchgear adalah, fungsi Switchgear

Rabu, 06 April 2011

Keandalan dan Kualitas Listrik

Sistem Tenaga Listrik

Untuk lebih mudah memahami keandalan dan kualitas listrik, kita harus mengetahui apa yang dinamakan “Sistem Tenaga Listrik” yang akan mempresentasikan cara pembangkitan, penyaluran dan pendistribusian energi listrik.
Secara umum sistem tenaga listrik terdiri dari:

1. Pusat Pembangkit Listrik (Power Plant);
Yaitu tempat energi listrik pertama kali dibangkitkan, dimana terdapat turbin sebagai penggerak mula (prime mover) dan generator yang membangkitkan listrik. Biasanya di pusat pembangkit listrik juga terdapat gardu induk (GI). Peralatan utama pada gardu induk antara lain: Transformer, yang berfungsi untuk menaikkan tegangan generator (11,5 kV) menjadi tegangan transmisi / tegangan tinggi (150 kV) dan juga peralatan pengaman dan pengatur. Jenis pusat pembangkit yang umum antara lain: PLTA (Pusat Listrik Tenaga Air), PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap), PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas), PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir).

2. Saluran Transmisi (Transmission Line);

Berupa kawat-kawat yang di pasang pada menara atau tiang dan bisa juga melalui kabel yang di pendam di bawah permukaan tanah, saluran transmisi berfungsi menyalurkan energi listrik dari pusat pembangkit, yang umumnya terletak jauh dari pusat beban, ke gardu induk penurun tegangan yang memiliki transformer penurun tegangan dari tegangan transmisi ke tegangan distribusi (menengah). Saluran transmisi ini mempunyai tegangan yang tinggi agar dapat meminimalkan rugi-rugi daya (power losses) disaluran. Contoh dari saluran transmisi di Indonesia adalah : SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi, dengan tegangan kerja 70--150 kV), SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi, dengan tegangan kerja 500 kV).

3. Sistem Distribusi;
Yang merupakan sub-sistem tersendiri yang terdiri dari: Pusat Pengatur Distribusi ( Distribution Control Centre, DCC ) , Saluran tegangan menengah (6 kV dan 20 kV, biasa juga disebut tegangan distribusi primer) yang merupakan saluran udara atau kabel tanah, Gardu Distribusi (GD) tegangan menengah yang terdiri dari panel-panel pengatur tegangan menengah dan trafo sampai dengan panel-panel distribusi tegangan rendah (380 V, 220 V) yang menghasilkan tegangan kerja/tegangan jala-jala untuk industri dan konsumen perumahan.

Pentingnya Keandalan dan Kualitas Listrik

Pemadaman listrik yang terlalu sering dengan waktu padam yang lama dan tegangan listrik yang tidak stabil, merupakan refleksi dari keandalan dan kualitas listrik yang kurang baik, dimana akibatnya dapat dirasakan secara langsung oleh pelanggan.

Sistem tenaga listrik yang andal dan energi listrik dengan kualitas yang baik atau memenuhi standar, mempunyai kontribusi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat modern karena peranannya yang dominan dibidang industri, telekomunikasi, teknologi informasi, pertambangan, transportasi umum, dan lain-lain yang semuanya itu dapat beroperasi karena tersedianya energi listrik. Perusahaan-perusahaan yang bergerak diberbagai bidang sebagaimana disebutkan diatas, akan mengalami kerugian cukup besar jika terjadi pemadaman listrik tiba-tiba atau tegangan listrik yang tidak stabil, dimana aktifitasnya akan terhenti atau produk yang dihasilkannya menjadi rusak atau cacat.

Negara-negara yamg memiliki sistem pembangkit, transmisi dan distribusi energi listrik dengan teknologi dan peralatan mutakhir serta manajemen yang baik seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis dan negara-negara maju lainnya benar-benar memberikan perhatian khusus terhadap keandalan dan kualitas listrik karena pengaruhnya yang krusial terhadap roda perekonomian.

Parameter-Parameter yang Menentukan Keandalan dan Kualitas Listrik

Ukuran keandalan dan kualitas listrik secara umum ditentukan oleh beberapa parameter sebagai berikut:

1. Frekuensi dengan satuan hertz (Hz);
Yaitu jumlah siklus arus bolak-balik (alternating current, AC) per detik. Beberapa negara termasuk Indonesia menggunakan frekuensi listrik standar, sebesar 50 Hz.

Frekuensi listrik ditentukan oleh kecepatan perputaran dari turbin sebagai penggerak mula. Salah satu contoh akibat dari frekuensi listrik yang tidak stabil adalah akan mengakibatkan perputaran motor listrik sebagai penggerak mesin-mesin produksi di industri manufaktur juga tidak stabil, dimana hal ini akan mengganggu proses produksi.

Gangguan-gangguan yang terjadi pada sistem frekuensi:
a. Penyimpangan terus-menerus (Continuous Deviation); frekuensi berada diluar batasnya pada saat yang lama (secara terus-menerus), frekuensi standar 50 Hz dengan toleransi 0,6 Hz ------ (49,4 – 50,6 Hz)
b. Penyimpangan sementara (Transient Deviation); penurunan atau penaikkan frekuensi secara tiba-tiba dan sesaat.

2. Tegangan atau voltage dengan satuan volt (V);
Tegangan yang baik adalah tegangan yang tetap stabil pada nilai yang telah ditentukan. Walaupun terjadinya fluktuasi (ketidak stabilan) pada tegangan ini tidak dapat di hindarkan, tetapi dapat di minimalkan.

Gangguan pada tegangan antara lain :
a. Fluktuasi Tegangan; seperti: Tegangan Lebih (Over Voltage), Tegangan Turun (Drop Voltage) dan tegangan getar (flicker voltage)

Tegangan lebih pada sistem akan mengakibatkan arus listrik yang mengalir menjadi besar dan mempercepat kemunduran isolasi (deterioration of insulation)
sehingga menyebabkan kenaikan rugi-rugi daya dan operasi, memperpendek umur kerja peralatan dan yang lebih fatal akan terbakarnya peralatan tersebut. Peralatan-peralatan yang dipengaruhi saat terjadi tegangan lebih adalah transformer, motor-motor listrik, kapasitor daya dan peralatan kontrol yang menggunakan coil/kumparan seperti solenoid valve, magnetic switch dan relay. tegangan lebih biasanya disebabkan karena eksitasi yang berlebihan pada generator listrik (over excitation), sambaran petir pada saluran transmisi, proses pengaturan atau beban kapasitif yang berlebihan pada sistem distribusi.

Tegangan turun pada sistem akan mengakibatkan berkurangnya intensitas cahaya (redup) pada peralatan penerangan; bergetar dan terjadi kesalahan operasi pada peralatan kontrol seperti automatic valve, magnetic switch dan auxiliary relay; menurunnya torsi pada saat start (starting torque) pada motor-motor listrik. Tegangan turun biasanya disebabkan oleh kurangnya eksitasi pada generator listrik (drop excitation), saluran transmisi yang terlalu panjang, jarak beban yang terlalu jauh dari pusat distribusi atau peralatan yang sudah berlebihan beban kapasitifnya.

b.Tegangan Kedip (Dip Voltage); adalah turunnya tegangan (umumnya sampai 20%) dalam perioda waktu yang sangat singkat (dalam milli second). Penyebabnya adalah hubungan singkat (short circuit) antara fasa dengan tanah atau fasa dengan fasa pada jaringan distibusi. Tegangan kedip dapat mengakibatkan gangguan pada: stabilisator tegangan arus DC, electromagnetic switch, variable speed motor, high voltage discharge lamp dan under voltage relay.

c. Harmonik Tegangan (Voltage Harmonic); adalah komponen-komponen gelombang sinus dengan frekuensi dan amplitudo yang lebih kecil dari gelombang asalnya (bentuk gelombang yang cacat), contoh :
Gelombang asal : (28,3) sin (t) kV.
Harmonik ke-3 : (28,3/3) sin (3t) kV.
Harmonik ke-5 : (28,3/5) sin (5t) kV.

Tegangan harmonik dapat mengakibatkan: panas yang berlebihan, getaran keras, suara berisik dan terbakar pada peralatan capacitor reactor (power capacitor); meledak pada peralatan power fuse (power capacitor); salah beroperasi pada peralatan breaker; suara berisik dan bergetar pada peralatan rumah tangga (seperti TV, radio, lemari pendingin dsb.); dan pada peralatan motor listrik, elevator dan peralatan-peralatan kontrol akan terjadi suara berisik, getaran yang tinggi, panas yang berlebihan dan kesalahan operasi. Kontribusi arus harmonik akan menyebabkan cacat (distorsi) pada tegangan, tergantung seberapa besar kontribusinya.

Cara mengurangi pengaruh tegangan harmonik yang terjadi pada sistem adalah dengan memasang harmonic filter yang sesuai pada peralatan-peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonik seperti arus magnetisasi transformer, static VAR compensator dan peralatan-peralatan elektronika daya (seperti inverter, rectifier, converter, dsb.)

d. Ketidak seimbangan tegangan (Unbalance Voltage); umumnya terjadi di sistem distribusi karena pembebanan fasa yang tidak merata.

Gangguan-gangguan tegangan sebagaimana dijelaskan diatas dapat menyebabkan peralatan-peralatan yang menggunakan listrik, beroperasi secara tidak normal dan yang paling fatal adalah kerusakan atau terbakarnya peralatan.

3. Interupsi atau Pemadaman Listrik;
Interupsi ini dapat dibedakan menjadi:
a. Pemadaman yang direncanakan (Planned Interruption/scheduled interruption); adalah pemadaman yang terjadi karena adanya pekerjaan perbaikan atau perluasan jaringan pada sistem tenaga listrik.
b. Pemadaman yang tidak direncanakan (Unplanned Interruption); adalah pemadaman yang terjadi karena adanya gangguan pada sistem tenaga listrik seperti hubung singkat (short circuit).

Parameter-parameter yang menentukan keandalan dan kualitas listrik sebagaimana dijelaskan diatas adalah sesuatu yang meyakinkan (measureable) dan dapat diminimalkan dengan cara mengkoreksi terhadap konfigurasi dan peralatan pada sistem, manajemen serta sumber daya manusia yang handal dari perusahaan yang menjual energi listrik.

Ditulis oleh: Hanif Guntoro
sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com

Jumat, 05 November 2010

Jenis Gardu Induk VS Faktor Ekonomis

Penggunaan jenis-jenis Gardu Induk harus melibatkan prinsip ekonomis, sehingga penerapan dan pembangunan Gardu Induk dilakukan secara efektif dan efisien.

Berikut klasifikasi penempatan gardu induk berdasarkan factor ekonomis:

Item/jenis Pasangan Luar Pasangan Dalam Bawah Tanah
Saluran Transmisi yang keluar Atas Tanah Terutama Bawah Tanah Hanya bawah Tanah
Keselarasan dengan lingkungan Cocok untuk daerah jalur hijau dan daerah Industri Cocok untuk daerah perumahan dan daerah Industri Cocok untuk jalan-jalan yang ramai dan banyak gedung-gedung tinggi
Pencegahan terhadap gangguan suara Agak sukar Mudah Mudah
Pencegahan terhadap kebakaran Mudah Mudah Sukar,perlu hati-hati
Pencegahan terhadap banjir Sukar didaerah rendah Mudah Sukar,perlu hati-hati
Pencegahan terhadap salju Sukar dan perlu hati-hati Tidak perlu Tidak perlu
Pencegahan terhadap debu dan pengotoran garam Sukar dan perlu hati-hati Tidak perlu Tidak perlu
Daerah yang diperlukan Besar Sedang Kecil
Mudah atau sukar dibangun Mudah Agak sukar Agak sukar
Waktu pembangunan Singkat Agak lama Lama
Harga Tanah Cocok bila harga tanah murah Cocok bila harga tanah sangat mahal Cocok bila harga tanah sangat mahal
Operasi dan pemeliharaan Mudah Agak sukar Agak sukar

Jenis Gardu Induk Listrik Lengkap

Jenis gardu Induk diklasifikasikan berdasarkan kebutuhannya, yaitu :

Menurut Jenis Pelayanannya :

  1. Gardu Transmisi, yaitu gardu induk yang melayani untuk TET dan TT.
  2. Gardu Distribusi, yaitu gardu induk yang melayani untuk TM

Menurut Jenis Kontruksinya :

  1. Gardu Induk jenis pasang dalam :
  2. Gardu Induk jenis pasang luar
  3. Gardu Induk jenis setengah pasang luar
  4. Gardu Induk jenis pasang bawah Tanah
  5. Gardu Induk jenis Mobil
  1. Gardu Induk jenis pasang luar adalah Gardu Induk yang terdiri dari peralatan tinggi pasang luar,misalnya Transformator, peralatan penghubung (switch gear) yang mempunyai peralatan control pasang dalam seperti meja penghubung (switch board).Pada umumnya,gardu induk untuk transmisi yang mempunyai kondensator pasangan dalam dan sisi tersier trafo utama dan trafo pasangan dalam disebut juga sebagai pasangan luar.Jenis gardu ini memerlukan tanah yang luas akan tetapi biaya konstruksinya murah dan pendinginnya mudah Oleh karena itu biasanya gardu induk jenis ini dipasang dipinggiran kota
  2. Gardu Induk jenis pasang dalam adalah semua komponen yang berada pada gardu induk terpasang didalam,meskipun ada beberapa sejumlah kecil peralatan terpasang diluar.Gardu induk ini dipakai dipusat kota,dimana harga suatu lokasi sangat tidak relevan (mahal) dan biasa digunakan untuk menghindari kebakaran dan gangguan suara
  3. Gardu Induk jenis pasang setengah pasang luar adalah gardu induk yang sebagian dari peralatan tegaangan tingginya terpasang didalam gedung.Gardu ini juga dapat dikatakan sebagai jenis setengah pasang dalam.Biasanya jenis gardu ini bermacam-macam bentuknya dengan berbagai pertimbangan yang sangat ekonomis serta pencegahan kontaminasi garam
  4. Gardu Induk jenis pasang bawah tanah dimana hamper semua peralatan terpasang dalam bangunan bawah tanah.Biasanya alat pendinginnya terletak diatas tanah terletak dipusat kota seperti dijalan-jalan kota yang ramai dimana kebanyakan gardu induk ini dibangun dibawah jalan raya
  5. Gardu induk jenis mobil yaitu dimana gardu jenis ini dilengkapi dengan peralatan diatas kereta hela (trailer).Gardu ini biasa digunakan jika ada gangguan disuatu gardu lain maka digunakan gardu jenis ini guna pencegahan beban lebih berkala dan juga biasa digunakan pada pemakaian sementara dilokasi pembangunan tenaga listrik.Maka dapat dikatakan bahwa gardu ini tidak dijadikan sebagai gardu utama melainkan sebagai gardu induk cadangan (sebagai penghubung yang dapat berpindah-pindah)
Menurut Jenis Isolasinya :
  1. Gardu induk yang menggunakan udara guna mengisolir bagian-bagian yang bertegangan dan bagian bertegangan lainnya dan dengan bagian yang tidak bertegangan/tanah.
  2. Gardu induk yang menggunakan gas guna mengisolir bagian-bagian yang bertegangan dan bagian bertegangan lainnya dan dengan bagian yang tidak bertegangan/tanah. Isolasi gas yang digunakan adalah gas SF6 pada tekanan tertentu.
Menurut Jenis rel :
  1. Gardu induk dengan satu rel (single busbar).
  2. Gardu induk dengan dua rel (double busbar).
  3. Gardu induk dengan dua rel sistem 1,5 PMT (one and half circuit breaker).

Info Lengkap Gardu Induk Listrik

Pernah mendengar istilah Gardu Induk dong?? Pasti anak teknik ngerti istilah ini, bahkan orang umum pun bisa tau apa istilah Gardu Induk walaupun mereka hanya lihat dari bentuk bangunan, gedung atau lokasi yang dekat dengan lingkungannya.

Pelajaran mengenai Gardu Induk bisa difahami tidak dalam waktu dekat, artinya pemahaman memerlukan waktu yang mendalam, bahkan waktu kuliah 3 Sks (kalau gk salah, hehehe... lupa sey).


Gambar : google.com , vivanews.com

"Lihat petugas diatas, mereka adalah petugas yang berada dilingkungan Gardu Induk.
Mereka mulia bukan, karena mereka sadar Gardu Induk merupakan hal vital dalam kelistrikan"


Gardu Induk merupakan simpul didalam sistem tenaga listrik, yang terdiri dari susunan dan rangkaian sejumlah perlengkapan yang dipasang menempati suatu lokasi tertentu untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik, menaikkan dan menurunkan tegangan sesuai dengan tingkat tegangan kerjanya, tempat melakukan kerja switching rangkaian suatu sistem tanaga listrik dan untuk menunjang keandalan sistem tenaga listrik terkait.

Pengertian dan Fungsi Gardu induk.

Gardu Induk adalah suatu instalasi listrik mulai dari TET (Tegangan Ekstra Tinggi), TT (Tegangan Tinggi) dan TM (Tegangan Menengah) yang terdiri dari bangunan dan peralatan listrik.

Fungsi Gardu Induk adalah untuk menyalurkan tenaga listrik (kVA, MVA) sesuai dengan kebutuhan pada tegangan tertentu. Daya listrik dapat berasal dari Pembangkit atau dari gardu induk lain. Fungsi lainnya adalah :
  1. Untuk mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi ke saluran transmisi lainnya yang kemudian didistribusikan ke konsumen
  2. Sebagai tempat control
  3. Sebagai pengaman operasi system
  4. Sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi
Oleh karena itu,jika dilihat dari segi manfaat dan kegunaan dari gardu induk itu sendiri,maka peralatan dan komponen dari gardu induk harus memiliki keandalan yang tinggi serta kualitas yang tidak diragukan lagi,atau dapat dikatakan harus Optimal dalam kinerjanya sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak merasa dirugikan oleh kinerjanya.OLeh karena itu,sesuatu yang berhubungan dengan rekonstruksi pembangunan gardu induk harus memiliki syarat-syarat yang berlaku dan pembanguna gardu induk harus diperhatikan besarnya beban.

Maka prencanaan suatu gardu induk harus memenuhi persyaratan sebagai berikut
  1. Operasi,yaitu dalam segi perawatan dan perbaikan mudah
  2. Flexsibel
  3. Konstruksi sederhana dan Kuat
  4. Memiliki tingkat keandalan dan daya guna yang tinggi
  5. Memiliki tingkat keamanan yang tinggi
Baca Juga :
  1. Jenis-Jenis Gardu Induk
  2. Gardu Induk dan Nilai Ekonomi

Minggu, 05 September 2010

SUTET 500 KV

SUTET merupakan singkatan dari Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi, di Indonesia penggunaanya pada tegangan 500 kV. Saat ini terbentang di pulau Jawa. SUTET 500 KV .

Rabu, 03 Februari 2010

Semua Tentang Listrik ada disini

Mulai saat ini saya akan membagikan beberapa informasi mengenai kelistrikan.

Sebenarnya ini adalah curahan hati mengenai keliastrikan yang sudah hampir saya lupakan.

Kamus Listrik Rangking

 

Site Info


Google Sitemap Generator
Bloglisting.net - The internets fastest growing blog directory Engineering Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Kamus Listrik Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template