Tampilkan postingan dengan label Listrik Tegangan Tinggi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Listrik Tegangan Tinggi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Preventive Maintenance (II)

Preventive maintenance adalah suatu pengamatan secara sistematik disertai analisis teknis-ekonomis untuk menjamin berfungsinya suatu peralatan produksi dan memperpanjang umur peralatan yang bersangkutan. Tujuan preventive maintenance adalah untuk dapat mencapai suatu tingkat pemeliharaan terhadap semua peralatan produksi agar diperoleh suatu kualitas produk yang optimum. Adapun kegiatan Preventive Maintenance meliputi:

  1. Inspeksi (inspection), adalah kegiatan pemeliharaan periodik untuk memeriksa kondisi komponen peralatan peralatan produksi dan area sekitar peralatan produksi. Lihat, rasa, dengar, adalah kegiatan pemeliharaan untuk memeriksa kondisi peralatan melalui penglihatan, perasaan dan pendengaran.

  2. Pemeliharaan berjalan (running maintenance), adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan tanpa mengehentikan kerja peralatan.

  3. Penggantian komponen kecil (small repair), adalah kegiatan pemeliharaan yang berupa penggantian komponen kecil.

  4. Pemeliharaan berhenti (shutdown maintenance), adalah pemeliharaan yang dapat dilakukan hanya pada saat peralatan produksi berhenti.

Dengan memanfaatkan prosedur maintenance yang baik, dimana terjadi koordinasi yang baik antara bagian produksi dan maintenance maka akan diperoleh:

  • Kuantitas Stop peralatan produksi dapat dikurangi (down time peralatan produksi diperkecil)

  • Biaya perbaikan yang mahal dapat dikurangi

  • Interupsi terhadap jadwal yang telah direncanakan waktu produksi maupun pemeliharaan dapat dihilangkan atau dikurangi.

Salah satu dari tujuan Preventive Maintenance adalah untuk menemukan suatu tingkat keadaan yang menunjukan gejala kerusakan sebelum alat-alat tersebut mengalami kerusakan fatal. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membuat perencanaan dan penjadwalan kegiatan maintenance dengan interupsi sekecil mungkin terhadap proses produksi.
Pada dasarnya tidak cukup hanya dengan membuat perencanaan penjadwalan (scheduled maintenance) yang matang akan tetapi perlu diperhatikan usaha-usaha untuk memusatkan perhatian pada unit-unit peralatan produksi yang dianggap rawan dan kritis. Suatu kualifikasi terhadap unit yang rawan didasarkan pada:

  1. Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan kerja.

  2. Kerusakan dapat mempengaruhi jalannya proses produksi dan kualitas produk.

  3. Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti.

  4. Modal yang tertanam pada unit tersebut dinilai cukup tinggi.


Untuk memelihara atau memeriksa seluruh unit secara ketat dan teratur hanya sekedar menghilangkan kemungkinan kerusakan pada peralatan produksi adalah suatu usaha yang tidak praktis karena memerlukan manusia-manusia dengan persyaratan tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Akibat bentuk dan saat terjadinya gangguan sangat sulit untuk diperkirakan secara dini, maka pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur dan periodik dari waktu ke waktu terhadap semua unit instalasi. Untuk melakukan hal tersebut maka dibutuhkan usaha-usaha pemeliharaan yang antara lain meliputi :

  1. Pemeliharaan rutin

  2. Pemeliharaan (sifatnya perbaikan) kecil/medium

  3. Bongkar seluruhnya (overhaul)

Pemeliharaan rutin adalah usaha pemeliharaan terhadap unit-unit instalasi yang dilakukan secara rutin dan periodik dengan interval waktu pelaksanaan yang tetap dan singkat.
Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pemeliharaan rutin pada dasarnya adalah usaha pemeliharaan yang dilakukan tanpa melelui proses pembongkaran. Bentuk pekerjaan dalam pemeliharaan rutin antara lain adalah:

  • Inspeksi rutin adalah merupakan peninjauan secara visual terhadap kondisi fisik komponen dari unit instalasi peralatan produksi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan secara rutin setiap satu hari sampai satu minggu sekali, tergantung kebutuhan.

  • Pengetesan rutin, merupakan usaha untuk mengatur atau memantau kondisi kerja suatu komponen sacara rutin agar komponen dapat diusahakan untuk beroperasi pada kondisi normal.


Kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan dalam pemeliharaan rutin misalnya :

  • Memeriksa fungsi dari mekanisme komponen

  • Memeriksa dan menyetel (adjustment)

  • Membersihkan

  • Mengencangkan bagian-bagian yang kendur


Pemeliharaan kecil/medium adalah usaha perbaikan-perbaikan ringan terhadap gejala gangguan yang berhasil terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Perbaikan ringan sangat penting peranannya dalam mencapai tingkat keberhasilan proses pemeliharaan yang dilakukan terhadap suatu komponen unit instalasi.

Kegiatan Overhaul pada mesin biasanya dilakukan secara periodik dan sangat teratur serta mempunyai konsentrasi dan perhatian yang lebih dibanding pemeriksaan rutin dan pemeliharaan kecil. Pada kegiatan ini dilakukan pembongkaran mesin untuk mengecek kondisi komponen mesin secara menyeluruh dimana dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan kerusakan yang terjadi pada mesin yang tidak dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan rutin. Contoh kegiatan seperti ini misalnya pada penggantian batu tahan api di tanur/kiln pabrik semen.

Disamping dilakukan pemeliharaan dengan perencanaan dan penjadwalan yang matang, didalam preventive maintenance dikenal pula kegiatan yang sering disebut dengan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dapat diartikan sebagai strategi pemeliharaan dimana pelaksanaannya didasarkan pada kondisi peralatan produksi itu sendiri

Mengingat tingkat kepastian 100% tidak pernah ada maka orang lebih suka menggunakan istilah prediksi atau perkiraan untuk memastikan pendapatnya. Dalam menduga-duga inipun pada dasarnya dibutuhkan dukungan data dan pengetahuan yang cukup mendalam tentang perilaku dari peralatan produksi yang diamati.

Beberapa contoh dukungan pengetahuan yang diperlukan untuk mengantisipasi keadaan ini antara lain :

  • Penguasaan prinsip kerja alat yang bersangkutan.

  • Penguasaan karakteristik alat.

  • Pengalaman pengoperasian alat yang sama di masa lalu baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

  • Penguasaan dan pengambilan data yang tepat.

  • Penguasaan pengolahan data.

  • Kemampuan mengkorelasikan antara satu kejadian dengan kejadian lain dalam kaitannya dengan bidang maintenance.

  • Berwawasan luas dalam bidang peralatan produksi kaitannya dengan kemajuan teknologi.


Seperti telah diketahui, preventive maintenance berfungsi menangani langsung hal-hal yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada fasilitasfasilitas yang dilakukan dengan jalan memeriksa alat/fasilitas secara teratur dan berkala serta memperbaiki kerusakan kecil yang dijumpai selama pemeriksaan. Bagaimanapun baiknya kondisi suatu peralatan produksi yang telah direncanakan, keausan dan kerusakan selama pemakaian pada umumnya masih dapat terjadi, namun demikian laju keausan dan kerusakan ini masih dapat diperkirakan besarnya bila peralatan produksi/alat dipakai dalam kondisi normal.

Khususnya dalam bidang peralatan listrik dan elektronika sering diperingatkan bahwa kerusakan-kerusakan komponen listrik adalah bahaya yang selalu mangancam sehingga tidak ada alat/instrument yang dapat memeriksa dan mengukur terhadap kerusakan komponen secara detail. Yang umum dilakukan dalam praktek, contohnya adalah mengganti semua bola lampu listrik dalam waktu tertentu, jadi tidak menggantinya satu persatu setelah bola lampu tersebut padam. Hal yang sama juga pada dilakukan pada menggantian bearing pada peralatan produksi.

Contoh diatas adalah contoh kasus dari pendekatan predictive maintenance. Predictive maintenance juga merupakan suatu teknik yang banyak dipakai dalam cara produksi berantai dimana bila ada gangguan darurat sedikit saja pada sistem produksi tersebut akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Seperti misalnya sistem produksi dengan sistem inline process, apabila proses produksi tersebut terhenti karena kerusakan yang terjadi pada inline process tersebut maka dapat dibayangkan kegagalan produksi yang terjadi.



Jadi Predictive maintenance adalah merupakan bentuk baru dari Planned Maintenance dimana penggantian komponen/suku cadang dilakukan lebih awal dari waktu terjadinya kerusakan. Untuk membantu melaksanakan predictive maintenance terdapat suatu diagram analisa predictive yang sering digunakan yang mengacu pada kondisi peralatan produksi besangkutan. Diagram analisa ini sering dikenal dengan instilah Bath Tube Curve karena grafik yang dihasilkan yang menyerupai bak mandi.

Pada diagram analisa tersebut dibagi menjadi 3 phase lifetime dari suatu peralatan produksi. Phase I atau sering juga disebut dengan early failure karena pada phase ini peralatan produksi dalam kondisi running in/masih baru (penyesuaian) dan pertama kali dioperasikan maka permukaan kerja (working surface) dari peralatan produksi masih kasar. Pada kondisi ini terdapat proses penghalusan permukaan tersebut karena terjadinya kontak kerja permukaan. Setelah melewati phase ini, karena permukaan bidang kerja sudah halus maka tingkat kontak kerja permukaan juga sudah menurun karena permukaan kerja peralatan produksi sudah pada kondisi stabil. Phase II ini dikenal sebagai useful life-period. Pada periode inilah yang akan menentukan umur peralatan produksi sebenarnya. Karena permukaan bidang kerja mempunyai lapisan kekerasan dengan ketebalan yang terbatas maka bila lapisan keras ini sudah habis terkikis maka laju keausan/kerusakan akan meningkat kembali. Hal ini akan berlangsung selama phase III yang dikenal sebagai periode keausan cepat (wearing out period).

Pada contoh kasus penggantian bearing peralatan produksi, dengan mengacu pada diagram analisa predictive tersebut maka penggantian sebaiknya dilakukan sebelum phase III atau menjelang phase II berakhir dengan demikian kondisi bearing tidak sampai rusak parah sehingga kerusakan pada peralatan produksi yang fatal akibat hancurnya bearing dapat dihindari dan tidak merambat pada komponen yang lain sehingga terhentinya proses produksi yang lama dapat dicegah.

Dalam predictive maintenance terdapat beberapa metode dalam mamantau atau monitoring kondisi dari suatu peralatan produksi, antara lain :

  1. Monitoring minyak pelumas Dengan cara mengambil sample oli dari peralatan produksi untuk mengecek kekentalannya atau melihat kuantitas oli yang masih tersimpan di tangki oli sesuai dengan anjuran dari manual book mesin merupakan cara-cara untuk monitoring minyak pelumas.

  2. Monitoring Visual Metode ini menggunakan panca indera yang meliputi lihat, rasa, dengar guna mengetahui kondisi mesin. Untuk lebih akurat bisanya digunakan alat Bantu.

  3. Monitoring kinerja Merupakan teknik monitoring kondisi peralatan produksi dengan cara memeriksa dan mengukur parameter kinerja dan kemudian dibandingkan dengan standarnya.

  4. Monitoring Geometris Diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan produksi dapat diketahui dan kemudian dilakukan kegiatan meliputi pengukuran leveling dan pengukuran posisi (alignment).

  5. Monitoring getaran Monitoring ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara rutin dan terus menerus sehingga getaran yang akan mengakibatkan kerusakan peralatan produksi lebih lanjut dapat dicegah.


Historical record pada Preventive maintenance

Pencatatan riwayat peralatan produksi yang dirawat perlu dilakukan untuk memantau perkembangan dan kondisi peralatan produksi dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pencatatan riwayat peralatan produksi secara umum adalah :

  1. Preventive maintenance dengan historical record yang baik akan menghasilkan kerja yang lebih efektif karena kondisi peralatan produksi dapat termonitor.

  2. Bila menggunakan metode inspeksi dengan program-program yang ketat akan mengasilkan hasil yang baik dengan biaya relative cukup murah dibandingkan dengan nilai perbaikan dari sebuah kerusakan yang terjadi.

  3. Siklus Overhaul peralatan produksi dapat diprakirakan dengan baik bila data historical record diperoleh dengan lengkap.

  4. Usaha untuk memperpanjang siklus overhaul akan berhasil bila data dari historical record lebih ketat.

  5. Makin akurat penentuan diagnosis kerusakan pada peralatan produksi maka biaya preventive maintenance semakin ekonomik.


Keuntungan dan Kerugian Preventive maintenance

Keuntungan dari preventive maintenance antara lain :

  1. Preventive maintenance bersifat antisipasif, oleh karenanya bagian produksi maupun bagian maintenance seharusnya dapat melakukan prakiraan dan penjadwalan produksi yang baik.

  2. Preventive maintenance dapat meminimumkan waktu berhentinya peralatan produksi (down time).

  3. Preventive maintenance dapat meningkatkan mutu pengendalian suku cadang.

  4. Preventive maintenance dapat menurunkan tingkat kegiatan pekerjaan yang bersifat darurat.


Kerugian dari Preventive maintenance adalah dapat terjadi pemborosan suku cadang bila penggantian suku-suku cadang dilakukan sebelum rusak.

Dari berhasilnya program preventive maintenance yang baik maka perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Suatu paket pencatatan (historical record) data maintenance yang baik.

  2. Adanya pengertian yang saling menunjang antara bagian produksi dan bagian maintenance.

  3. Para teknisi maintenance menunjukkan kemampuannya sebagai pekerja yang baik.

  4. Memiliki program inspeksi yang baik.

  5. Memiliki program perbaikan yang korektif.

  6. Preventive maintenance memiliki sistem administrasi yang baik.
Sumber : http://maintenance-group.blogspot.com

Sabtu, 14 Mei 2011

Pengujian Transformator

Pengujian transformator dilaksanakan menurut SPLN’50-1982 dengan melalui tiga macam pengujian, sebagaimana diuraikan juga dalam IEC 76 (1976), yaitu:
a. Pengujian Rutin
Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap setiap transformator, meliputi:

  • pengujian tahanan isolasi
  • pengujian tahanan kumparan
  • pengujian perbandingan belitan
  • pengujian vector group
  • pengujian rugi besi dan arus beban kosong
  • pengujian rugi tembaga dan impedansi
  • pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
  • pengujian tegangan induksi (Induce Test).

b. Pengujian Jenis
Pengujian jenis adalah pengujian yang dilaksanakan terhadap sebuah transformator yang mewakili transformator lainnya yang sejenis, untuk menunjukkan bahwa semua transformator jenis ini memenuhi persyaratan yang belum diliput oleh pengujian rutin. Pengujian jenis terdiri dari pengujian:

  • pengujian kenaikan suhu
  • pengujian impedansi

c. Pengujian khusus
Pengujian khusus adalah pengujian yang lain dari uji rutin dan jenis, dilaksanakan atas persetujuan pabrik denga pembeli dan hanya dilaksanakan terhadap satu atau lebih transformator dari sejumlah transformator yang dipesan dalam suatu kontrak. Pengujian khusus meliputi :

  • dielektrik
  • pengujian impedansi urutan nol pada transformator tiga phasa
  • hubung singkat
  • harmonik pada arus beban kosong
  • tingkat bunyi akuistik
  • daya yang diambil oleh motor-motor kipas dan pompa minyak.

d. Pengujian rutin
Yang termasuk pengujian rutin adalah pengukuran tahanan isolasi. Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada awal pengujian dimaksudkan untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi transformator, untuk menghindari kegagalan yang fatal dan pengujian selanjutnya, pengukuran dilakukan antara:
• sisi HV-LV
• sisi HV-Ground
• sisi LV-Groud
• X1/X2-X3/X4 (transformator 1 phasa)
• X1-X2 dan X3-X4 ) transformator 1 phasa yang dilengkapi dengan circuit breaker.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan megger, lebih baik yang menggunakan baterai karena dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Harga tahanan isolasi ini digunakan untuk kriteria kering tidaknya transformator, juga untuk mengetahui apakah ada bagian-bagian yang terhubung singkat.
e. Pengukuran tahanan kumparan
Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila
kumparan tersebut dialiri arus. Nilai tahanan belitan dipakai untuk perhitungan rugi-rugi tembaga transformator. Pada saat melakukan pengukuran yang perlu diperhatikan adalah suhu belitan pada saat pengukuran yang diusahakan sama dengan suhu udara sekitar, oleh karenanya diusahakan arus pengukuran kecil.

Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tahanan di atas 1 Ohm adalah Wheatstone Bridge, sedangkan untuk tahanan yang lebih kecil dari 1 ohm digunakan Precition Double Bridge. Pengukuran dilakukan pada setiap phasa transformator, yaitu antara terminal:
1) Pengukuran pada terminal tegangan tinggi
a) Pada transformator 3 phasa
- phasa A - phasa B
- phasa B - phasa C
- phasa C - phasa A
b) Transformator 1 phasa
Terminal H1-H2 untuk transformator double bushing dan Terminal H dengan Ground untuk transformator single bushing dan pengukuran sisi tegangan rendah
c) Pada transformator 3 phasa
- phasa a - phasa b
- phasa b - phasa c
- phasa c - phasa a
d) Transformator 1 phasa (terminal X1-X4 dengan X2-X3 dihubung singkat).


f. Pengukuran perbandingan belitan
Pengukuran perbandingan belitan adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah kumparan sisi tegangan tinggi dan sisi tegangan rendah pada setiap tapping, sehingga tegangan output yang dihasilkan oleh transformator sesuai dengan yang dikehendaki, toleransi yang diijinkan adalah:

  • a. 0,5 % dari rasio tegangan atau
  • b. 1/10 dari persentase impedansi pada tapping nominal.

Pengukuran perbandingan belitan dilakukan pada saat semi assembling yaitu, setelah coil transformator diassembling dengan inti besi dan setelah tap changer terpasang, pengujian kedua ini bertujuan untuk mengetahui apakah posisi tap transformator telah terpasang secara benar dan juga untuk pemeriksaan vector group transformator. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan Transformer Turn Ratio Test (TTR), misalnya merk Jemes G. Biddle Co Cat. No.55005 atau Cat. No. 550100-47.
g. Pemeriksaan vector group

Pemeriksaan vector group bertujuan untuk mengetahui apakah polaritas terminal-terminal transformator positif atau negatif. Standar dari notasi yang dipakai adalah Additive dan Subtractive.


h. Pengukuran rugi dan arus beban kosong
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui berapa daya yang hilang yang disebabkan oleh rugi histerisis dan eddy current dari inti besi (core) dan besarnya arus yang ditimbulkan oleh kerugian tersebut. Pengukuran dilakukan dengan memberikan tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. suhu acuan 75ºC


i. Pengujian tegangan terapan (Withstand Test)
Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji kekuatan isolasi antara kumparan dan body tangki. Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan uji sesuai dengan standar uji dan dilakukan pada:

  • tegangan tinggi terhadap sisi tegangan rendah dan body yang di ke tanahkan
  • tegangan rendah terhadap sisi tegangan tinggi dan body yang di ke tanahkan
  • pengujian 60 detik


j. Pengujian tegangan induksi
Pengujian tegangan induksi bertujuan untuk mengetahui kekuatan isolasi antara layer dari tiap-tiap belitan dan kekuatan isolasi antara belitan transformator.
Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan supply dua kali tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. Untuk mengatasi kejenuhan pada inti besi (core) maka frekuensi yang digunakan harus dinaikkan sesuai denga kebutuhan. Lama pengujian tergantung pada besarnya frekuensi pengujian dan waktu pengujian maksimum adalah 60 detik.


k. Pengujian kebocoran tangki
Pengujian kebocoran tangki dilakukan setelah semua komponen transformator sudah terpasang. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kondisi paking dan las transformator. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan nitrogen (N2) sebesar kurang lebih 5 psi dan dilakukan pengamatan pada bagian-bagian las dan paking dengan memberikan cairan sabun pada bagian tersebut. Pengujian dilakukan sekitar 3 jam apakah terjadi penurunan tekanan.

l. Pengujian jenis (Type Test)
a) Pengujian kenaikan suhu
Pengujian kenaikan suhu dimaksudkan untuk mengetahui berapa kenaikan suhu oli dan kumparan transformator yang disebabkan oleh rugi-rugi transformator apabila transformator dibebani. Pengujian inijuga bertujuan untuk melihat apakah penyebab panas transformator sudah cukup effisien atau belum.
Pada transformator dengan tapping tegangan di atas 5% pengujian kenaikan suhu dilakukan pada tappng tegangan terendah (arus tertinggi), pada transformator dengan tapping maksimum 5% pengujian dilakukan pada tapping nominal. Pengujian kenaikan suhu sama dengan pengujian beban penuh, pengujian dilakukan dengan memberikan arus transformator sedemikian hingga membangkitkan rugi-rugi transformator, yaitu rugi beban penuh dan rugi beban kosong.
b) Pengujian tegangan impulse
Pengujian impulse ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik dari sistem isolasi transformator terhadap tegangan surja petir. Pengujian impuls adalah pengujian dengan memberi tegangan lebih sesaat dengan bentuk gelombang tertentu. Bila transformator mengalami tegangan lebih, maka tegangan tersebut hampir didistribusikan melalui effek kapasitansi yang terdapat pada :
- antar lilitan transformator
- antar layer transformator
- antara coil dengan ground
c) Pengujian tegangan tembus oli
Pengujian tegangan tembus oli dimaksudkan mengetahui kemampuan dielektrik oli. Hal ini dilakukan karena selain berfungsi sebagai pendingin dari transformator, oli juga berfungsi sebagai isolasi. Persyaratan yang ditentukan adalah sesuai denga standart SPLN 49 - 1 : 1982, IEC 158 dan IEC 296 yaitu:
> = 30 KV/2,5 mm sebelum purifying
> = 50 KV/2,5 mm setelah purifying
Peralatan yang dapat digunakan misalnya merk hipotronics type EP600CD.
Cara pengujian adalah sebagai berikut:
􀂃 bersihkan tempat contoh oli dari kotoran dengan mencucinya dengan oli sampai bersih
􀂃 ambil contoh oli yang akan diuji, usahakan pada saat pengambilan contoh oli tidak tersentuh tangan atau terlalu lama terkena udara luar karena oli ini sangat sensitive
􀂃 tempatkan contoh oli pada alat tetes
􀂃 nyalakan power alat tetes
􀂃 tekan tombol start dan counter akan mencatat secara otomatis sejauh mana kemampuan dielektrik oli tersebut. Setelah counter berhenti dan tombol reset menyala, tekan tombol reset untuk mengembalikan ke posisi semula
􀂃 hasil pengujian tegangan tembus diambil rata-ratanya setelah dilakukan 5 (lima) kali dengan selang waktu 2 menit. 4. Pencampuran Minyak Transformator Shell Diala B dengan Univolt 80.Minyak transformator memiliki dua fungsi yang sangat signifikan, yaitu sebagai pendingin dan isolator. PLN sebagai perusahaan penyedia listrik nasional beserta LMK menetapkan bahwa minyak transformator standar yang digunakan di Indonesia adalah Shell Diala B. Tetapi pada praktiknya di lapangan masih ditemui penggunaan dan pencampuran minyak transformator antara merk Shell Diala B dengan Univolt 80. Pencampuran terjadi ketika minyak transformator di dalam transformator memiliki merk. Shel Diala B dan Oil additional oil hose memiliki merk Univolt 80. Proses pencampuran minyak transformator shell Diala B dengan Univolt 8.0 terjadi pada saat proses purifikasi. Berikut adalah langkahlangkah atau proses purifikasi minyak transformator:
1. Pemasangan pipa-pipa penghubung antara transformator dengan mesin purifikasi
2. Pengel udara dalam pipa
3. Pembukaan inlet dan outlet valve
4. Penambahan minyak transformator dari additional oil hose
5. Filterisasi
Pencampuran kedua jenis minyak ini dilakukan dengan mengacu hasil pengujian atau pemeriksaan terhadap sampel-sampel yang dilakukan di Laboratorium PLN. Untak mengetahui keandalan dari penggunaan minyak Shell Diala B, Univolt 80 dan campurannya dilakukan pengujian terhadap tujuh sampel dari minyak baru tersebut. Sifat yang diuji adalah berat jenis pada 20 derajat celcius, viskositas kinematik pada 20 derajat celcius, titik nyala, angka kenetralan, uji korosipengeringan tembaga, tegangan tembus dan ketahanan oksidasi (kadar kotoran). Pencampuran memiliki perbandingan, yaitu:
Kode Contoh I Univolt 80 100%
Kode Contoh II Univolt 80 80% Shell Diala B 20%
Kode Contoh III Univolt 80 60% Shell Diala B 40%
Kode Contoh IV Univolt 80 50% Shell Diala B 50%
Kode Contoh V Univolt 80 40% Shell Diala B 60%
Kode Contoh VI Univolt 80 20% Shell Diala B 80%
Kode Contoh VII Shell Diala B 100%.
Minyak Univolt 80, Shell Diala B dan campurannya memiliki sifat penyerapan terhadap udara luar yang relatif sama. Kedua jenis minyak ini memiliki sifat-sifat awal yang sesuai dengan spesifikasi minyak isolasi berdasarkan SPLN 49-1,1982. Dari viskositasnya tampak bahwa kedua jenis minyak transformator ini termasuk kelas satu. Berdasarkan hasil pengupan nampak bahwa sifat-sifat campuran kedua, minyak masih berada diantara sifat-sifat kedua minyak, ini berarti tidak ada pengaruh reaksi antara rninyak Shell Diala B dengan Univolt 80 yang dapat menyebabkan sifat-sifat bergeser dari sifat-sifat awalnya. Berdasarkan
hasil uji viskositasnya, campuran minyak Shell Diala B dengan Univolt 80 dalam berbagai perbandingan termasuk dalam kelas satu.
5. Keselamatan Kerja
Peraturan-peraturan dasar yang menyangkut semua peralatan listrik berlaku pula untuk nsformator dengan berapa ciri khas. Bila mengadakan perbaikan dan pemeliharaan sebuah transformator yang perlu dan penting untuk diperhatikan adalah melepaskan transformator dari semua hubungan pada sisi primer maupun pada sisi sekunder. Maksud melepaskan sisi sekunder menjaga kemungkinan terjdinya suatu umpan balik setelah dilepaskan, alat pembukannya dikunci dalam posisi terbuka. Jika mempergunakan sekering kawat lebur ini perlu disimpan untuk menjaga sengaja dipasang lagi oleh orang lain. Setelah dilepaskan, kumparan primer dan skunder dihubungkan dengan tanah untuk menghilangkan kemungkinan masih adanya sisa, energi di dalam transformator. Pentanahan ini baru dilepaskan setelah semua pekerjaan selesai. Walaupun jaraknya lebih jauh, pentanahan bejana transformator diperiksa apakah berada dalam keadaan baik. Jika bejana akan dibuka karena diperlukan pemeriksaan didalamnya, harus dan perhatikan bahwa di dalam bejana tidak akan terdapat suatu tekanan. Hal ini dilakukan dengan bantuan sebuah katup yang terletak di atas cairan isolasi. Jika dipergunakan gas, mulai bejana transformator harus dikosongkan dan
diisi dengan udara bersih. Perhatian yang khusus harus diberikan bila transformator mempergunakan bahan askarel sebagai cairan isolasi. Bahan askarel ini
hendaknya jangan terkena kulit karena mempunyai efek, terutama pada mata, hidung dan bibir yang dapat menjadi serius. Transformator yang berisi askarel hendaknya juga jangan dibuka jika masih berada dalam keadaan pahas, karena uapnya racun. Jika tidak dapat dihindari untuk membuka transformator dalam keadaan panas, agar hal itu dilakukan ditempat yang mempunyai ventilasi yang baik, dan personil perlu dihindari dari kena uapnya. Perlu merupakan suatu prosedur tetap bila seseorang memasuki sebuah bejana transformator, agar dijaga dan dibantu oleh seorang lain yang berada di luarnya. Perhatian agar alat-alat seperti obeng, tang dan lain sebagainya tidak tertinggal di dalam jika pekerjaan selesai. Sebaliknya disusun suatu daftar peralatan yang dipakai, dan yang tepat diperiksa, setelah pekerjaan selesai dan sebelum disambungkan pada sumber pada sumber listrik, perlu diperhatikan bahwa semua keadaan telah aman dan
baik.


Tags : pengujian transformator, trafo uji , pngujian trafo, cara uji trafo, cara uji transformator

Tipe-tipe Switchgear

A piece of switchgear may be a simple open-air isolator switch or it may be insulated by some other substance. An effective although more costly form of switchgear is gas insulated switchgear (GIS), where the conductors and contacts are insulated by pressurized sulfur hexafluoride gas (SF6). Other common types are oil or vacuum insulated switchgear.

The combination of equipment within the switchgear enclosure allows them to interrupt fault currents of thousands of amps. A circuit breaker (within a switchgear enclosure) is the primary component that interrupts fault currents. The quenching of the arc when the ciruit breaker pulls apart the contacts open (disconnects the circuit) requires careful design. Circuit breakers fall into these four types:

  • Oil circuit breakers rely upon vaporization of some of the oil to blast a jet of oil through the arc.
  • Gas (SF6) circuit breakers sometimes stretch the arc using a magnetic field, and then rely upon the dielectric strength of the SF6 to quench the stretched arc.
  • Vacuum circuit breakers have minimal arcing (as there is nothing to ionize other than the contact material), so the arc quenches when it is stretched a very small amount (<2–3 mm). Vacuum circuit breakers are frequently used in modern medium-voltage switchgear to 35,000 volts.
  • Air circuit breakers may use compressed air (puff) to blow out the arc, or alternatively, the contacts are rapidly swung into a small sealed chamber, the escaping of the displaced air thus blowing out the arc.

Circuit breakers are usually able to terminate all current flow very quickly: typically between 30 ms and 150 ms depending upon the age and construction of the device.

Several different classifications of switchgear can be made[3]:

  • By the current rating.
  • By interrupting rating (maximum short circuit current that the device can safely interrupt)
    • Circuit breakers can open and close on fault currents
    • Load-break/Load-make switches can switch normal system load currents
    • Isolators may only be operated while the circuit is dead, or the load current is very small.
  • By voltage class:
    • Low voltage (less than 1,000 volts AC)
    • Medium voltage (1,000–35,000 volts AC)
    • High voltage (more than 35,000 volts AC)
  • By insulating medium:
    • Air
    • Gas (SF6 or mixtures)
    • Oil
    • Vacuum
  • By construction type:
    • Indoor (further classified by IP (Ingress Protection) class or NEMA enclosure type)
    • Outdoor
    • Industrial
    • Utility
    • Marine
    • Draw-out elements (removable without many tools)
    • Fixed elements (bolted fasteners)
    • Live-front
    • Dead-front
    • Open
    • Metal-enclosed
    • Metal-clad
    • Metal enclose & Metal clad
    • Arc-resistant
    • By IEC degree of internal separation [4]
      • No Separation (Form 1)
      • Busbars separated from functional units (Form 2a, 2b, 3a, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from busbars (Form 2b, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from functional units but not from each other (Form 3a, 3b)
      • Functional units separated from each other (Form 3a, 3b, 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separated from each other (Form 4a, 4b)
      • Terminals for external conductors separate from their associated functional unit (Form 4b)
  • By interrupting device:
  • By operating method:
    • Manually-operated
    • Motor-operated
    • Solenoid/stored energy operated
  • By type of current:
    • Alternating current
    • Direct current
  • By application:
    • Transmission system
    • Distribution
  • By purpose

A single line-up may incorporate several different types of devices, for example, air-insulated bus, vacuum circuit breakers, and manually-operated switches may all exist in the same row of cubicles.

Ratings, design, specifications and details of switchgear are set by a multitude of standards. In North America mostly IEEE and ANSI standards are used, much of the rest of the world uses IEC standards, sometimes with local national derivatives or variations.


Maaf belum sempat translate neeh ;-)

Apasih Switchgear ??

Switchgear adalah panel distribusi yang mendistribusikan beban kepanel-panel yang lebih kecil kapasitasnya. Dalam bahasa Indonesia artinya Panel Tegangan Menengah (PTM) atau juga disebut MVMDB (Medium Voltage Main distribution Board) dan sedangkan untuk tegangan rendah disebut LVMDB (Low Voltage Main Distribution Board).

Pada pelaksanaannya banyak pelaku dilapangan menggunakan istilah yang berbeda-beda, kadang ada yang menyebut Distribution Board, Switchgear, MCC, Panel dan sebagainya.

Source : wikipedia.

Switchgear itu pada prinsipnya sama dengan panel distribusi. Yaitu mendistribusikan beban kepanel-panel yang lebih kecil kapasitasnya. Mungkin kalau dibahasa indonesiakan Panel Tegangan Menengah (PTM) atau juga disebut MVMDB (Medium Voltage Main distribution Board) dan kalau utk teg. Rendahnya disebut LVMDB (Low Voltage Main Distribution Board).
Pada pelaksanaannya dilapangan banyak pelaku dilapangan menggunakan istilah yang berbeda-beda, kadang ada yang menyebut Distribution Board, Switchgear, MCC, Panel dsb.

Source : migas-indonesia

Switchgear adalah panel hubung bagi yang berfungsi untuk menempatkan komponen – komponen listrik dalam sistem distribusi tenaga listrik. Gangguan pada switchgear dapat mempengaruhi kelangsungan pasok energi listrik sehingga mengganggu operasi mesin dan kinerja unit menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu SDM yang kompeten, pelatihan ini dapat memberikan solusi terhadap masalah pemeliharaan switchgear di unit pembangkit.

Source : PLN-Pusdiklat



Tags : switchgear, apakah Switchgear, fungsi dari Switchgear, Switchgear adalah, fungsi Switchgear

Rabu, 03 Februari 2010

Blog terlengkap mengenai kelistrikan

Disini blog lengkap mengenai kelistrikan, jadi enjoy aja ya

Kamus Listrik Rangking

 

Site Info


Google Sitemap Generator
Bloglisting.net - The internets fastest growing blog directory Engineering Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Kamus Listrik Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template